Nasihat Ibuk


"Sebentar lagi kita akan pulang, Nak."

Ibuk minta kamu eratkan sabuk pengamannya. Sebab, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan. Kalau saat ini kamu sedang tertawa, bisa jadi beberapa saat nanti yang keluar dari raut mukamu adalah irisan demi irisan kecewa. 

Anak perempuan ibuk tidak boleh sembarangan menaruh hati pada lelaki. Ibuk tidak ingin anak perempuan ibuk hatinya retak. Sebab, sekali retak sangat sulit untuk menjadi utuh seperti semula. 

Nak, hatimu layaknya kaca. Kamu harus jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sembarangan menaruh hatimu. Nanti, ibuk takut ada orang yang hanya sekadar singgah dan meninggalkanmu begitu saja. Yang salah bukan dia, sebenarnya. Kamu yang tidak hati-hati dan mengizinkan masuk siapa saja. Lalu, kamu berharap padanya melewati batas harapanmu pada Allah. Kamu lupa, ternyata segala sesuatu yang hanya diharapkan pada manusia, berujung pada kecewa. Ini yang ibuk takutkan.

Ibuk ingin, kamu menjadi anak perempuan yang hati-hati. Terlebih seolah perasaan. Sebab ibuk paham, perasaan perempuan itu sangatlah lembut. Selain lelaki yang harus lebih bijaksana, kamu juga harus lebih bisa untuk menjaga.

Ibuk tersenyum dan menatapku berbinar. Kita kembali melanjutkan perjalanan. Menuju sebuah tempat di mana senang, tertawa dan bahagia adalah menjadi bagian dari masa lalu kami yang sekarang tidak bisa dirasakan lagi. Kami menuju kuburan ayah. 

Itu sebenarnya pesan dari ayahmu dulu yang belum sempat ia sampaikan padamu; hati-hati dengan perasaan ya, Nak. Ayah sudah tidak bersamamu lagi. Semoga ibuk bisa sekaligus menjadi ayah yang tangguh untukmu. :")

06.23 Wib
9 Desember 2018 

Sedang di Perjalanan


Aku tidak bisa meminta banyak hal, kecuali satu. Jika ada yang mengetuk pintu hatimu, maka lihatlah sejenak dari jendela kalbumu siapa yang mengetuk pintu itu. Jika yang mengetuk bukan aku, silakan saja jika memang ingin kamu diizinkan untuk masuk. Jika kamu merasa nyaman dengannya, maka terimalah. Sebab, aku di sini masih menjadi lelaki yang tak punya berani.

Jika ternyata ia hanya masuk untuk sekadar singgah, lihatlah ke sudut jalan itu. Aku masih di sini. Sedang mempersiapkan banyak hal agar aku mengetuk pintu bukan untuk keluar kembali. Aku mengetuk pintu hatimu untuk menetap suatu saat nanti. Sepanjang hari. 

Sebab, aku tidak ingin menjadikanmu tempat singgah. Aku ingin menjadikanmu tempat berpulang paling nyaman selayaknya rumah. 

Perempuan dengan wajah yang meneduhkan. Kita pada saat ini bukanlah siapa-siapa. Hanya sepasang manusia yang hanya bisa berdoa. Sembari sedikit demi sedikit berusaha. Semoga suatu hari nanti ada jalan untuk menjadi bersama. 

Perempuan dengan wajah yang meneduhkan; selamat menjadi dirimu sendiri. Jangan paksa hatimu untuk menerima seseorang yang sama sekali kamu merasa tak satu visi dengannya. Keterpaksaanmu menerima hanya akan menjadi penyelesanmu suatu saat ini. 

Menunggulah, jika memang ingin menunggu. Meyakinlah bahwa ada yang sedang berjalan menujumu. Walau jalannya sangat pelan; namun tujuannya tetaplah satu, yaitu kamu. Sabarlah, jangan terlalu tergesa-gesa. Aku masih berusaha.

21.15 Wib
5 Desember 2018

Kekhawatiran Pada Masa Depan


Anak muda yang baru lulus kuliah, ia ibarat masuk ke dalam sebuah pintu kehidupan yang sebenarnya. Kalau dulu semasa kuliah, gampang banget bilang ke orangtua, "Mah, duit udah habis. Kabarin aja ya, kalo udah ditransfer." Maka saat resmi menyandang status sebagai sarjana, saya yakin, ada beban tersendiri untuk mengucapkan itu lagi.

Tiba-tiba datang semacam teguran dan dengan tegas diri sendiri berbicara, "Aku harus segera mandiri." Tiba-tiba merasa malu saat masih saja meminta uang kepada orangtua saat sudah ditetapkan menjadi sarjana. Tiba-tiba merasa (sering) gelisah saat tidak tahu akan melangkah ke mana. Betul?

Ada satu hal lagi, yang barangkali ini tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Satu hal ini, saya yakin, hanya dirasakan oleh mereka yang sudah pascakampus, mereka sudah resmi dinyatakan lulus.

Adalah perbedaan realitas antara di kampus dan di pascakampus. Kalau dulu semasa di kampus dengan mudah, idealis dan berapi-apinya mengatakan bahwa "saya nanti setelah lulus sarjana akan S2 di universitas ini, universitas itu, universitas dalam negeri atau luar negeri; saya setelah lulus akan bekerja di perusahaan ini atau perusahaan itu; dan segala kalimat-kalimat lainnya yang seolah mudah untuk digapai, ketika itu."

Namun, saat dinyatakan lulus sarjana dan masuk ke dalam kehidupan yang sebenarnya, ternyata tidak segampang yang dulu pernah dibayangkan.

Ada banyak konflik, kegelisahan, dan kekhawatiran akan  masa depan. Terlebih di saat melihat teman-teman lain yang satu per satu sudah menemukan jalan hidupnya. Sedangkan kita, masih saja belum tahu akan menuju ke arah yang mana.

Kegelisahan ini, kalau terus diikuti, maka akan menyebabkan kita merasakan kegelisahan yang berkepanjangan. Sebangun tidur di pagi hari, merasa gelisah saya belum mendapatkan pekerjaan juga hingga saat ini. Sebelum tidur di malam hari, merasa gelisah besok saya akan ngapain ya? Dan, kegelisahan itu pun menjadi rutinitas yang kita rasakan dari hari ke hari.

Maka dari itu, tugasmu ketika merasakan kegelisahan saat sudah dinyatakan lulus namun belum juga menemukan jalan yang harus dituju, teruslah berikhtiar; sembari terus berjuang menemukan passion di dalam dirimu. Kamu tidak boleh terlalu mengkhawatirkan masa depan. Tenanglah. Karena perihal masa depan (rezeki) Allah sudah benar-benar menjaminnya. Asalkan kamu setelah lulus tidak malas-malasan, tidak mager-mageran, dan terus berjuang mencari perluang. Maka, perlahan kamu pasti sedang melangkah menuju kesuksesan. Cepat atau lambatnya. Namun, teruslah untuk melangkah.

Ibarat sebuah kereta api, awal berjalan begitu lambat pelan-pelan, namun ia terus bergerak. Semakin cepat dan semakin cepat. Kemudian sampailah ia di tujuannya. Begitu pun kamu, walau langkahmu setelah lulus belum tahu akan ke mana dan terasa begitu berat, teruslah untuk berjalan dan bergerak. Jangan malas-malasan. Allah sudah menjamin masa depanmu, dengan syarat kamu terus berikhtiar!

Untukmu yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa, maka mulailah untuk mempersiapkan masa depanmu sekarang juga. Tentukan arah hidupmu dan mulailah memperjuangkannya sesegera mungkin. Semakin cepat kamu memulai, maka akan semakin cepat kamu sampai di tujuan. Kalau masih menunda-nunda, maka sadar atau tidak kamu telah ditinggalkan oleh teman sebayamu yang berani memulai dengan segera. Mereka sudah sampai di titik yang jauh, kamu masih saja belum bergerak.

Di kampus, jangan lagi banyak nongkrongnya, namun yang ditongkrongin ga tahu ngomongin apa. Cuma ketawa-ketawa doang. Di kampus, jangan banyak malasnya. Keluarlah dan carilah relasi seluas-luasnya. Beranilah untuk mencoba banyak hal yang baru. Jangan takut untuk gagal. Karena dengan kegagalan itu kamu akan paham hal mana yang harus dievaluasi dan hal mana yang harus terus dilalui. Selamat berjuang anak muda!

IG: robiafrizan1
19 November 2018, di Kereta Api Argo Parahyangan dari Bandung menuju Gambir Jakarta.

Teman Seperjalanan


Keraguan-keraguanmu, perasaan-perasaan cemasmu, kekhawatiran-kekhawatiranmu; dengan tegas aku menjawab bahwa aku masih di sini, aku masih pada jalan panjang memperjuangkanmu. Tidak peduli kamu mau diperjuangkan atau tidak, yang jelas aku masih terus berikhtiar semampuku. Sampai suatu saat nanti memang Allah memberikan kode ternyata jalanku buntu.

Aku di sini masih seperti akar-akar yang menancap dalam. 
Yang terus membangun cara bagaimana agar bunga-bungaku bermekaran. 

Aku di sini masih seperti anak-anak sungai. 
Yang terus mencari cara agar perasaanku bisa mengalir pada serambi-serambi hatimu. 

Aku di sini masih seperti pohon-pohon rindang. 
Yang sebisa mungkin memberikan keteduhan untukmu. 

Kamu silakan berjalan pada jalanmu sendiri. Aku tidak pernah memaksa agar kamu berada pada jalan yang sama denganku. Namun, sejauh ini aku masih yakin; orang-orang yang satu tujuan pasti akan bertemu pada jalan yang sama. Dan, aku saat ini sedang menujumu. Apakah kamu juga sedang menujuku? Semoga kita tidak hanya saling berpapasan, semoga kita sama-sama berjalan pada satu tujuan; untuk menjadi teman seperjalanan.

8/10/2018

Kamu Masih Ada Harapan, Sayang


"Kamu masih ada kesempatan, Sayang. Kamu masih ada harapan yang panjang. Jangan karena rumitnya tugas akhir perkuliahan kamu menyerah dan putus asa begitu saja. Kamu pasti punya tenaga untuk menyelesaikan semuanya. Kamu itu bisa. Kamu pasti mampu melewati setiap dinamika pada tahun-tahun akhir di kampus ini; dosen yang parahnya minta ampun untuk ditemui, jurnal-jurnal yang  pas dan sesuai tiada kunjung bertemu, apalagi satu per satu temanmu sudah mulai beres dan selesai. Tidak apa-apa. Kamu jalani semuanya semampumu. Saat kamu memulai, pasti kamu akan selesai," Ibu mendekapku erat. Seolah ada transferan tenaga yang ia berikan dari sela-sela jarinya yang menggenggam jemariku dengan rapat-rapat.

Tahun-tahun akhir di kampus selalu punya kisahnya tersendiri. Ada yang lulusnya cepat, namun setelah itu bingung mau ke mana. Setahun, dua tahun, tiga tahun, belum juga kunjung dapat kerjaan. Ada yang lulusnya "telat", namun tidak lama setelah kelulusan ia langsung bekerja dan membangun impiannya. 

Kisah hidup akan selalu begitu. Setiap orang punya momentumnya masing-masing. Tidak pernah keliru. Semua pas sesuai takarannya masing-masing. Tuhan telah menciptakan momentum untuk kita. Semua akan bersinar pada saatnya. Yakinlah...

Yang tidak boleh kita lakukan adalah menyerah. Sebab, menyerah adalah kalah. Jika kita tetap terus melangkah, maka cepat atau lambatnya pasti akan sampai di tujuannya juga. Baik-baiklah. Jangan cemas dan berputus asa. Allah sayang kamu. Allah ingin melihat seberapa keras perjuanganmu. Yakinlah, di setiap apa yang kamu lalui pasti ada hikmahnya. Tinggal kamu mau peka atau tidak. Tinggal kamu mau memetiknya atau melepasnya begitu saja. 


8/10/2018

Sebuah Rantai atau Tali dari Gulungan Tisu


Saya menyebutnya sebagai rantai masa depan. Segala sesuatu yang saling terkait dari awal hingga akhir. Seperti akar yang menghujam dalam di tanah hingga pucuk daun yang menjulang tinggi ke angkasa. Saling berkaitan dan saling sambung-menyambung dalam prosesnya. Begitu pun fase dalam kehidupan. Dunia sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah, memiliki anak, tua, dan meninggal dunia. Walau bisa saja "meninggal dunia" ada pada urutan setelah kuliah atau bahkan ketika kuliah, atau lebih cepat dari itu ketika "masa sekolah SMA" atau bisa juga setelah fase "menikah". Poin "meninggal dunia" adalah poin yang tidak bisa dipastikan akan diletakkan pada posisi nomor berapa. Karena yang berhak dan yang tahu kapan seseorang akan meninggal dunia hanya Allah. Kita semua sepakat.

Bukan itu yang sebenarnya saya sampaikan. Begini, izinkanlah saya menyampaikannya dengan sebuah analogi. Ibarat sebuah rantai yang saling bersambung dari roller pertama hingga rollernya yang paling akhir. Atau agar lebih sederhana, saya ibaratkan seperti sebuah tali yang terbuat dari gulungan tisu. Ketika basah ujung tali itu, maka basahnya merembes hingga ujung tali yang paling ujung.

Dunia kampus yang sedang Anda jalani, sama halnya seperti tali yang terbuat dari gulungan tisu ini. Juga seperti sebuah rantai yang panjang. Anda kuliah di kampus, kemudian Anda lulus, Anda bekerja, Anda menikah, Anda memiliki anak, Anda tua, dan Anda meninggal dunia. Semuanya saling berkaitan. 

Coba bayangkan, jika pada saat kuliah Anda menjalaninya dengan cara-cara yang tidak pantas; menitipkan presensi (atau lebih dikenal dengan titip absen), melihat catatan atau searching jawaban ujian di google, copy paste tugas yang sangat tidak dianjurkan, menyontek dan cara-cara yang sebenarnya tidak boleh dilakukan tapi Anda tetap melakukannya. 

Kemudian pada masanya, Anda pun dinyatakan lulus dari kampus. Wisuda dan nama Anda pun memiliki titel gelar sesuai dengan jurusan masing-masing. Anda bekerja dan Anda mendapatkan gaji. Kemudian Anda menikah dan menafkahi keluarga Anda. Apakah berkah saat Anda menafkahi keluarga sedangkan ketika di kampus, Anda malah lulus dengan cara-cara yang tidak pantas; sering titip absen, sering liat contekan atau nyari jawaban di google saat ujian, mengerjakan tugas akhir dengan sistem copy paste yang dominan. 

Tentu semua fase dalam kehidupan ini akan selalu saling bersambungan. Saya meyakininya seperti itu. Mengikhtiarkan keberkahan itu pun juga tidak bisa diraih dengan tiba-tiba. Perlu proses panjang dan Anda harus menjaga baik-baik dari prosesnya yang paling awal; memilih untuk tidak titip absen ketika kuliah misalnya.

29/9/2018
06.04 Wib

Tidak Ada Yang Hilang, Yang Ada Hanyalah Kepergian


Semua sepakat, setiap yang ada pasti akan tiada, setiap yang berbunyi pasti akan sunyi. Tinggal bagaimana kita meluaskan hati untuk menerima segala ketetapan yang telah diberikan-Nya.

Bagiku, tidak ada yang hilang, lenyap, dan tak berbekas. Yang ada hanyalah sebuah perjalanan kepergian. Mungkin, lebih tepatnya adalah perjalanan pergi untuk kembali. Pergi dari alam yang fana dan kembali pada alam kepastian yang telah dijanjikan oleh Allah.

Seseorang yang kita sayang, seseorang yang kita cintai, bahkan seseorang yang kita sebalkan pun juga pasti akan pergi. Termasuk, diri kita sendiri juga sama. Pada suatu masa, tidak ada lagi jantung yang berdetak, tidak ada lagi nadi yang bergerak. Seseorang yang benar-benar telah mempersiapkan tidak akan pernah khawatir. Yang khawatir hanyalah mereka yang terlalu sibuk dengan urusan dunia dan melupakan sejatinya bekal yang seharusnya sudah mulai dipersiapkannya.

Satu lagi, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan yang terlalu cinta dunia dan takut akan kematian. Wahn, nama penyakit itu. Allah jagalah kami. :"

28/9/2018
20.42 Wib

Laki-laki berjuang dengan ikhtiar. Perempuan berjuang dengan menunggu. Dua-duanya sama-sama berjuang. Hanya tinggal menunggu waktu untuk bertemu, bertamu, dan bersatu. Semoga dalam setiap prosesnya tetap menjadikan Allah yang nomor satu.

Robi Afrizan Saputra