Kita Meyakini Muara yang Sama


Lebih kurang berbulan-bulan ke depan adalah bulan yang penuh tantangan. Bulan-bulan yang belum tentu berapa lamanya. Bulan-bulan yang belum tentu kapan berakhirnya. Dalam setiap purnamanya harus ada target yang didapatkan. Dalam setiap awalnya harus ada hal yang terus ditingkatkan. Dalam setiap penghujungnya selalu ada waktu yang semakin didekatkan. Semakin habis bulan pertama, datanglah bulan kedua yang mendekatkan pada bulan tiga. Begitu seterusnya. Tanpa tahu kapan berakhirnya. Yang jelas semakin berlalu satu bulan, semakin didekatkanlah dua orang insan.

Dekat yang bukan raga, namun dekatnya pada waktu yang dulu jauh-jauh hari sempat diperbincangkan.

Suatu tahun kesiapan. Suatu tahun lepasnya status kesendirian. Bulan-bulan sebelum datangnya tahun itu haruslah dijadikan sebagai bulan pembelajaran atas banyak hal. Yang kemudian jika dikerucutkan menjadi narasi sebuah persiapan. Yang benar-benar siap dari segi ilmu, kemampuan hingga ruhiyah dua orang insan yang akan menjadi aktor kehidupan paling sakral.

Pada tahun itu, yang belum tentu kapan pastinya, akan menjadi tahun yang baru. Bertemunya dua manusia yang awalnya malu-malu. Bertemunya dua manusia yang sama-sama bersiap membangun kehidupan yang baru. Kehidupan yang akan penuh pendakian. Kehidupan yang terjal dan berbatu. Kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Atas dasar ikrar setia: kita akan jalani bersama-sama. Suka-dukanya. Segala permasalahannya. Setiap pertengkaran-pertengkaran kecilnya. Yang selalu kita yakini muaranya adalah bahagia. Kita, aku dan kamu. Pada waktunya.

Jatinangor. 7/12/2017

Mendaki Sebuah Persiapan


Kita sudah sepakat untuk tidak saling menunggu dan tidak saling berharap.

Tentu ada alasan kenapa kesepakatan itu tumbuh dan tidak bisa diganggu sama sekali. Atas dasar bahwa jika ada yang menunggu, maka bersiap-siaplah untuk terluka. Jika ada yang berharap, maka bersiap-siaplah untuk patah dan kecewa. Entah nantinya kamu yang menjadi korban dan aku sebagai pelaku atau sebaliknya. Yang jelas, sebelum jauh sebuah perjalanan, kita mesti mengantisipasi atas setiap kemungkinan yang akan terjadi. Dan kita memilih untuk berjarak saja terlebih dahulu. Agar tak ada yang patah dan tak ada yang terluka.

Atas dasar itulah kesepakatan itu ada dan disetujui. Lebih tepatnya diadakan. Karena kita sudah sama-sama sadar jika berjalan tidak pada tempatnya adalah sebuah kesalahan. Yang mungkin saja jika tetap terus dipertahankan, nantinya kita sama-sama jatuh di jurang kebodohan.

Selanjutnya perjalanan kita adalah perjalanan yang sendiri. Kamu di sana sibuk dengan penelitian tugas akhirmu. Dan tentu juga aku di sini sedang memperjuangkan hal yang sama. Memperjuangkan sebuah hal yang menjadi syarat terbukanya sebuah pintu nantinya, kira-kira begitu yang pernah kamu sampaikan. Hal yang diutarakan bapak yang juga kamu sempat utarakan padaku. Waktu itu.

Tugas kita sekarang adalah mempersiapkan dari jauh.

Apapun itu yang harus dipersiapkan. Tentu yang kurasa, aku mendapat porsi persiapan yang lebih banyak yang bukan satu atau dua. Sebuah persiapan yang tidak boleh gegabah. Sebuah persiapan yang mesti benar-benar siap. Tentang kapan waktunya, bagaimana caranya hingga seberapa banyak biaya yang akan dibutuhkan nantinya. Kamu di sana persiapkanlah dengan matang sebuah hal yang telah banyak dilupakan perempuan: ilmu. Tentang pra-nya, pasca-nya, hingga ilmu parenting yang benar-benar dibutuhkan nanti jika waktunya telah tiba. Dakilah persiapan itu dengan berlelah-lelah hingga kita nanti sampai pada puncak yang benar-benar dikatakan siap untuk terbang bersama.

Jatinangor. 7/12/2017

Dahsyatnya Masa Muda


Stasiun Bandung

Kita tidak akan pernah menyesal atas perjuangan-perjuangan yang kita lakukan di masa muda ini. Atas bisnis yang mulai dibangun namun bangkrut, atas usaha yang mulai dijalani namun sepi pengunjung, atas ikhtiar menuntut ilmu yang membuat tubuh hingga jatuh sakit, atas tekad diri untuk mengabdi pada masyarakat hingga lupa waktu dan mau tidur di mana saja. Kita tidak akan pernah menyesal atas itu semua.

Sebab, segala yang dilakukan di masa muda akan menyisakan sebuah hal yang berharga: pengalaman.

Semua sudah paham dan mengetahui bahwa pengalaman tidak dapat dibeli dengan sebanyak apapun harta orangtua. Pengalaman hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berani menghabiskan masa mudanya untuk mencoba banyak hal. Walau kadangkala apa-apa yang kita dicoba malah menghasilkan kegagalan. Tidaklah mengapa. Sebab, bukanlah hasil yang dicari, namun pembelajaranlah yang selalu menjadi tujuan akhirnya.

Beruntunglah bagi mereka yang sadar akan momentum muda. Mereka yang tidak ingin melewatkan masa mudanya berlalu begitu saja. Hingga mereka punya tekad untuk menjadikan masa mudanya sebagai momentum yang luar biasa. Momentum pembelajaran untuk bertumbuh lebih dewasa.

Apa-apa yang kita lakukan di masa muda haruslah apa-apa yang menjadi kebiasaan kita di masa tua. Jiwa pantang menyerah, semangat menuntut ilmu, jujur dalam apapun kondisi, dan segala perihal kebaikan lainnya.

Masa muda hanya sekali dan jadikanlah berlimpah arti. Begitulah kutipan dalam buku saya yang berjudul Jangan Jadikan Masa Mudamu Sia-sia (klik).

Jatinangor. 6/12/2017

Belajar Tumbuh Dewasa


Pangdam Unpad

Tampaknya kita perlu belajar lebih dewasa untuk saling menghargai. Agar tak ada hati yang luka, agar tak ada jiwa yang kecewa. Sebab, masing-masing di antara kita tentulah berbeda-beda.

Ada yang ingin lulus cepat dari masa studinya di kampus. Sebab, ada target dan rencana lain yang ingin disegerakannya selepas wisuda nantinya.

Ada yang menunda lulusnya sejenak. Sebab, ada alasan penting yang memang diprioritaskannya terlebih dahulu. Mengembangkan bisnis, memperluas relasi dengan kontribusi di organisasi, atau perihal lain yang tidak perlu kita perdebatkan tentunya.

Ada yang di kampus memilih untuk aktif di banyak organisasi yang menyebabkan jadwalnya selalu padat. Itu juga tak apa. Tentu mereka yang memilih jalan itu ada alasannya tersendiri juga. Atas semua yang dilakukannya. Atas apa-apa yang diperjuangkannya.

Ada juga yang di kampus full kuliah. Fokus akademik. Tidak satu pun ikut organisasi. Mungkin juga mereka punya alasan yang membuatnya untuk melakukan itu. Tentu alasan-alasan yang mereka sampaikan adalah alasan-alasan yang penuh dengan pertimbangan. Tidak juga perlu kita membicarakannya di belakang.

Ada juga yang di kampus lebih banyak waktunya dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Hingga waktu kuliahnya sedikit terpinggirkan. Kita juga tidak perlu mendebatkannya. Tentu mereka yang memilih hidupnya penuh dengan kontribusi sadar bahwa hidup adalah tempat berbagi dan mengabdi. Kita tidak perlu perdebatkan juga.

Ada juga mereka yang di kampus fokus pada lomba-lomba dan berbagai kompetisi. Tidak aktif di organisasi, tetapi aktif berkompetisi. Berbagai kejuaraan diikutinya. Berbagai perlombaan dimenangkannya. Pasti juga mereka punya alasan tersendiri untuk melakukan itu semuanya.

Kita harus terus belajar tumbuh dewasa. Sebab, setiap orang punya life plan yang berbeda.

IG: robiafrizan1
Jatinangor. 5/12/2017

Pertanyaan Penghujung Tahun


Kampung Santri Cilembu

Memasuki penghujung tahun adalah waktu bagi orang-orang yang dulu di awal tahun beresolusi untuk mengevaluasi. Tentang target demi target yang dulu sudah direncanakan sedetail mungkin. Berapa banyak yang sudah tercapai dan berapa banyak yang masih terbengkalai. Desember menjadi bulan derasnya turun hujan sekaligus bulan tempat mempertanyakan nilai sebuah perjuangan. 

Saya termasuk satu di antara orang-orang yang dulu pernah membuat resolusi di awal tahun. Saya merencanakan banyak hal di awal tahun lalu bagaimana agar tahun yang dijalani saat ini menjadi tahun yang berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Ternyata kenyataan di lapangan tidak semudah yang ada dalam pikiran. Saya menemui berbagai kendala, tantangan, rintangan, bahkan hambatan yang pada suatu waktu membuat saya sempat berhenti. Hanya karena tujuan akhir yang jelas saya memutuskan untuk terus melanjutkan langkah perjuangan. Walau dengan merangkak. Pelan-pelan. Benar-benar perlahan. 

Pada saat saya menuliskan ini, mungkin juga orang-orang yang sedang membaca tulisan ini, saya merasakan betapa hebatnya lesat waktu. Betapa cepatnya terasa waktu setahun ini berlalu. Rasanya baru kemarin 31 Desember 2016, sebentar lagi akan mengulang tanggal yang sama saja. Waktu yang berlalu sangat cepat ini harus benar-benar disadari. Betapa kalau seandainya kita tidak menyadari lesat waktu yang begitu cepat, mungkin kita akan menjadi bagian dari orang-orang yang terlindas oleh peradaban, orang-orang yang lambat dan tertinggal. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sadar akan cepatnya waktu ini berjalan agar kita tidak termasuk ke dalam mereka yang ketinggalan kereta. 

Penghujung tahun 2017 ini, sejenak coba bangkitkan kembali resolusi atau rencana-rencana yang dulu sempat disusun di awal tahun. Rencana mana yang sudah tercapai, rencana mana yang harus dilanjutkan untuk tahun depan, dan rencana mana yang harus diganti dengan hal yang lebih realistis lagi. 

Hal ini penting dilakukan sebagai bentuk evaluasi diri. 

Apakah selama setahun ini kita ada kemajuan? Apakah setahun ini kita hanya banyak tidur-tiduran saja? Apakah setahun ini waktu produktif kita banyak terbuang hanya karena sibuk dengan main, main, main dan main saja? Apakah setahun ini gerak kita sangat lambat sedangkan orang-orang sudah mulai jauh melangkah di depan? Apakah setahun ini hafalan Quran kita bertambah? Apakah setahun ini buku yang kita baca meningkat jumlahnya? Berapa kali shaum sunnah kita pada tahun ini yang terlaksana? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa terjawab dengan sendiri sembari mengevaluasi diri. 

Hasil evaluasi ini jadikanlah dasar untuk menyusun resolusi untuk tahun depan, tahun 2018. Karena semakin baik sebuah perencanaan, tentu semakin baik pula persiapannya. Karena itu, mulai persiapkan dari sekarang juga.

Mungkin, para pembaca ada yang punya relosusi menikah di tahun 2018? Semoga Allah memberikan jalan-jalan kemudahan untuk hal itu. Sebab, kebaikan tidaklah boleh ditunda-tunda. :)

Instagram: robiafrizan1
Jatinangor. 3/12/2017

Perihal Nasihat Diri


Saat-saat seperti ini: tubuh yang lemah, nafsu makan yang berantakan, jantung yang tidak karuan, demam yang naik-turun, kepala sakit dan pusing yang sering menghantui. Rasa-rasanya ingin pulang dan kembali ke pangkuan ibu, di rumah, di pulau seberang sana. Ingin sekali rasanya untuk menyatukan rindu ini dengannya. Ingin sekali untuk menatap wajah tuanya yang mulai keriput. Memandang dengan dalam-dalam bola matanya adalah bahagia. Rasa yang tidak bisa terdefinisikan oleh apapun. Namun, apalah daya seorang perantau yang jauh dari kampung halamannya. Hanya bisa menahan sakit sendiri. Hanya bisa menangisi sakit yang semoga Allah segera sembuhkan ini.

Saat-saat seperti ini, rasanya ingin benar-benar pulang. Ingin dikasih perhatian yang lebih oleh ibu. Ingin rasanya ditanyakan segala perihal yang bisa membuat tubuh ini kembali kuat. Namun, bertemu untuk saat ini adalah ketidakmungkinan yang masih terus disemogakan. Jarak, juga tentunya perihal biaya, menjadi persoalan paling rumit.

Satu keyakinan yang terus membuat diri ini kuat adalah percaya bahwa Allah masih ada. Masih bersama para hamba-Nya. Sejatinya, Allah yang jaga, Allah yang memberikan sakit, Allah yang menyembuhkan, Allah yang segala-galanya. Tidak mungkin setiap skenario ini adalah script yang gagal. Tentu di balik semua ujian nan bertubi ini akan ada hikmah yang dapat dipetik bagi mereka yang peka. Sepertinya, aku harus belajar lebih peka atas segala perihal apapun itu.

Pelajarannya bagi para perantau di mana pun berada. Menahan rindu adalah hal yang mau tidak mau harus dipaksa untuk dilakukan. Demi sebuah impian dan cita-cita untuk membahagiakan bapak dan ibu di rumah. Tidaklah boleh mengabaikan kesehatan. Sebab, seberapa pun banyak uang yang dimiliki nantinya. Yang namanya kesehatan tidak akan dapat dibeli. Haruslah dijaga baik-baik. Juga bagi para perantau, janganlah sesekali untuk malas dalam hal apapun itu. Jauh-jauh dari kampung halaman, setibanya di rantau malah malas-malasan. Tentu percuma dan sia-sia. Karena itu, bersemangatlah. Ingat, di kampung nan jauh di sana, ada bapak dan ibu yang menantikan kehadiranmu kembali. Dua orang pahlawan itu pun sudah mulai menua. Membahagiakannya adalah kewajiban yang harus dilakukan dengan segera.

Dalam kondisi drop. Jatinangor. 29/11/2017


Menangislah


Tadi kamu bercerita tentang masalah demi masalah nan bertubi yang sedang menimpa pundakmu. Tentang tugas-tugas kuliah yang harus segera diselesaikan saat ini juga. Tentang amanah organisasi yang dituntut untuk terus difollow up sekarang juga. Tentang berkas lomba yang juga harus segera kamu revisi pada saat ini jua. Juga cerita panjangmu sampai permasalahan yang sedang terjadi di keluarga.

Untuk kamu yang hari-harinya selalu kulihat ceria. Pundakmu begitu kuat. Tidak akan mungkin lemah hanya karena permasalahan secuil itu. Pundakmu itu begitu kuat. Kamu adalah sosok tangguh yang kukenal tidak mudah untuk menyerah. Pundakmu itu sangat kuat. Sebab, di sana ada keyakinan bahwa Allah sedang memberikan peluang padamu untuk naik beberapa derajat. Bukankah kita juga sama-sama yakin bahwa Allah memberikan sebuah masalah kepada hamba-Nya sebagai pertanda bahwa kita sanggup dan mampu menjalaninya?

Karena itu, kuatlah.

Sebab, saat ini adalah waktu bagimu untuk terus bertumbuh.
Masalah ini adalah pendorong bagimu untuk terus menjadi tangguh.

Jika kamu ingin menangis atas apa-apa yang sedang kamu jalani.
Menangislah di sini, di sampingku yang tak pernah pergi.

Dariku yang sedang berjuang menjadi teman terbaik dalam hidupmu.

27/11/2017