Jendela Mobil Mewah


Apa-apa yang kita lakukan di dunia, termasuk hal-hal kecil seperti membuang bungkus ice cream dari kaca jendela mobil, suatu saat nanti pasti akan dimintakan pertanggungjawaban. 

Kemarin, 17 Juni 2018, saya berangkat mudik dari Sijunjung ke Bukittinggi (dua-duanya di Sumatera Barat). Waktu tempuh dari Sijunjung ke Bukittinggi lebih kurang sekitar 3-4 jam. Kebetulan suasananya masih lebaran, ada di beberapa titik yang tersendat. Sedikit macet. Namun, tidak semacet di Pulau Jawa.

Sepanjang perjalanan, ada satu hal yang memang menjadi bahan renungan bagi saya. Kendaraan-kendaraan, tepatnya mobil-mobil, yang berjalan di depan kendaraan saya, tidak satu atau dua orang, para penumpangnya membuang sampahnya ke jalanan. Beberapa kali saya klakson. Yang namanya di perjalanan, tak ada satu pun yang peka. Semua mobil yang penumpangnya membuka jendela kemudian membuang sampahnya ke jalan.Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka seolah menganggap bahwa membuang sampah di jalanan dari jendela mobil mewahnya itu adalah hal yang biasa.

Apakah begini sikap dan mental generasi bangsa ini?

Semoga yang membaca tulisan sederhana ini bisa memetik hikmah dan pelajaran dari apa yang saya sampaikan. Sebab, perihal yang seringkali kita anggap sepele selalu memberikan dampak yang besar. Ternasuk, membuang sampah dari kaca jendela mobil. Sepele mungkin bagi sebagian orang. Namun, jika terus dibiarkan seperti itu, kapan penduduk negeri ini akan cerdas dalam menjaga kebersihan? 

Kelak, semoga kita bisa menanamkan nilai kepada anak-anak kita tentang pentingnya menghargai hal-hal yang seringkali dianggap kecil dan sepele oleh orang lain. Karena, kita seringkali terjatuh karena tersandung batu kecil, bukan batu besar.

Begitu pentingnya memperhatikan dan memahami hal-hal yang kecil. Termasuk mengajarkan anak-anak kita agar tidak membuang sampah dari kaca jendela mobil dan mengajarkan mereka untuk menyimpan sampahnya sebelum membuang ke tempat yang memang seharusnya. Tidak berat. Namun, harus dibiasakan. Dari sekarang!

Kacamata Apa yang Anda Pakai?


Setiap manusia pasti akan diuji.

Yang membedakan adalah bentuk ujiannya.

Ada yang diuji dengan wajah yang cantik, otak yang pintar, rupa yang tampan, harta yang banyak, fasilitas yang serba ada. Ada juga yang diuji dengan ketidakmampuan dalam ekonomi, otak yang kurang tajam dalam berpikir, keterbatasan dalam memiliki yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

Dua-duanya sama-sama berada dalam ujian kehidupan. Kalau dengan ujian itu Anda mampu semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka, Anda berhasil melewatinya dengan baik.

Kalau saja harta yang banyak membuat Anda lalai dengan salat atau dengan ketidakmampuan ekonomi Anda malah banyak mengeluh. Bahkan, menyudutkan Tuhan dengan dalih tidak adil. Maka, Anda gagal.

Inilah pentingnya memandang segala sesuatu dengan positif. Walau kita masih sering khilaf dan masih sering juga bernegative thinking. Namun, setidaknya kita sudah memulainya; memulai dari sekarang agar hari-hari ke depannya adalah hari-hari yang dipenuhi dengan pandangan kebaikan. Dan ini, saya sedang menasihati diri sendiri.

IG: @robiafrizan1

Selamat Menjadi Dirimu Sendiri


Yang pasti akan terjadi saat kamu menggantungkan harapan pada orang lain adalah kecewa. 

Terlebih jika menggantungkan harapan agar bisa diterima sebagai pendamping hidupnya suatu hari nanti. Padahal kamu di hari ini bukanlah siapa-siapa baginya. Masih menjadi "orang lain" untuk dirinya. Masih menjadi seseorang yang belum pasti akan menjadi siapa di masa depannya.

Semakin tinggi kamu berharap, maka akan semakin sakit jika kamu terjatuh.

Lebih baiknya, kamu di hari ini tetaplah menjadi bagaimana dirimu yang sebenarnya. Tidak perlu berharap berlebihan pada siapa-siapa. Tidak perlu menggantungkan harapanmu pada siapapun itu. Biarkan sepenuhnya rencana Tuhan yang bekerja agar suatu hari nanti kamu tidak patah dan kecewa. 

Selamat menjadi dirimu sendiri.
Selamat menjadi seseorang yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

IG: @robiafrizan1 

Memilih Teman Hidup


Barangkali satu di antara pertanyaan yang akan aku sampaikan kepadamu nanti, jika memang telah tiba masa taaruf itu adalah pertanyaan ini,

"Apakah kamu adalah tipikal perempuan yang suka shopping?"

Pertanyaan ini penting. Setidaknya penting bagi diriku (sendiri). Sebab, konsepku akan rumah tangga adalah harus memilih teman hidup yang mampu memanajemen keuangan keluarga

Bagaimana caranya nanti, jika penghasilanku hanya pas-pasan sedangkan permintaanmu atas keinginan (bukan kebutuhan) terus bertambah-tambah. Tentu aku tidak akan bisa memenuhi itu semua. Sebab, rumah tangga muda kita adalah rumah tangga yang baru bertumbuh. Belum punya apa-apa.

Jika di masa kuliahmu...

Kamu lebih memilih menabung daripada berbelanja sesuatu yang bukan kebutuhanmu; kamu lebih memilih berhemat daripada membeli sesuatu yang belum penting-penting banget; barangkali kamu tak akan sulit menjawab pertanyaan itu.

Juga jangan khawatir. Jika memang nanti di rumah tangga muda kita ada sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan bersama dan harus segera dimiliki. Maka, tugaskulah untuk mengikhtiarkannya walau dalam kondisi keuangan keluarga yang begitu pas-pasan. Semampunya aku akan mengusahakannya. Selagi jalan itu halal dan thayyib, maka aku akan terus mengikhtiarkannya. Sebab, itulah tugasku, sebagai suami untukmu yang bertanggung jawab penuh dengan kebutuhan rumah tangga (muda) kita.

Semoga kamu (perempuan) yang di sana, sudah memulai belajar memanajemen keuanganmu kini demi rumah tangga mudamu nanti.

IG: @robiafrizan1

Tidak Perlu Khawatir, Tenanglah...


Sebagaimana pun kelamnya masa lalu, janganlah khawatir, kamu masih punya masa depan. 

Sebagaimana pun pekat dosa-dosamu, tenanglah, Allah Maha Pemaaf kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Kamu boleh menangis dan kamu boleh menyesal atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Tetapi kamu tidak boleh berputus asa. Sebab, Allah begitu Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya. 

Kamu hanya perlu menyesalkan setiap dosa-dosa yang telah diperbuat. Kemudian, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Kamu harus bersungguh-sungguh untuk memohon ampunan dan serius untuk bertaubatan nasuha.

Astaghfirullah...

Duhai Allah, maafkanlah kami yang seringkali melampaui batas.
Duhai Allah, maafkanlah kami yang masih sering bermaksiat.
Duhai Allah, maafkanlah kami yang sering lalai dengan kewajiban.

Baca pelanlah firman Allah yang begitu romantis ini, "Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Semoga di waktu-waktu ke depan, kamu terus bersemangat untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amalan kebaikan.

Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Setiap orang punya masa lalu dan setiap orang juga punya masa depan. :')



Follow Instagram @robiafrizan1 

Mempersiapkan Hati Seluas Samudera


Bagaimana kalau seandainya nanti, kamu tidak berjodoh dengan seseorang yang sedang kamu perjuangkan pada saat ini?

Tenanglah. Adakalanya rencanamu dibelokkan oleh Tuhan ke arah yang lebih indah. Bukankah kita sudah sama-sama meyakini bahwa daun yang jatuh, semut yang beriringan, bunga yang mekar, dan siapa yang akan menjadi teman hidupmu nanti adalah bagian dari skenario yang telah ditetapkan Tuhan dari jauh-jauh hari yang lalu. 

Kamu hanya diminta untuk berikhtiar. Mengangkasakan doa. Kemudian menerima hasil terbaik yang Tuhan berikan kepadamu. Walau terkadang tidak sedikit ada-ada saja yang merasa bahwa hasil yang diterimanya tidak sesuai dengan doa-doa yang ia minta. Keluasan hati seluas samuderalah yang dibutuhkan pada saat itu. Menerima takdir dengan baik dan meyakini bahwa segala yang kamu terima adalah yang terbaik. 

Kamu akan sadar dan paham bahwa keputusan dari Tuhan adalah yang terbaik ketika kamu sudah menjalani prosesnya. Pada ujung jalan sana, barulah kamu mengerti bahwa ternyata memang ini adalah hasil yang paling baik.

Tugasmu pada saat ini adalah mempersiapkan dan memperjuangkan. Memperjuangkan seseorang yang membuat hatimu merasa tenang dan mempersiapkan hati apabila yang kamu perjuangkan tidak sesuai dengan kenyataan. 

Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.

3/April/2018

Masya Allah, Hidupmu Luar Biasa

Masya Allah, Hidupmu Luar Biasa
Tidaklah boleh mengeluh. Sebab, jika memandang ke bawah, ternyata masih banyak orang yang hidupnya belum seberuntung hidupmu pada saat ini. Belajarlah untuk terus bersyukur. Sebab, dengan kekuatan syukur yang ada pada dirimu, maka kamu bisa menciptakan kebahagiaan untuk banyak orang. Orang bilang, dengan bersyukur, maka kamu akan berbahagia. Temukanlah kebahagiaan itu melalui dirimu sendiri. Mulai dari saat ini.

Tidak boleh menyerah. Sebab, betapa banyak orang-orang yang lahir dalam keadaan bukan siapa-siapa. Lalu, menjadi luar biasa dan lebih bermakna. Karena ia menyadari bahwa setiap potongan kisah kehidupannya tidak boleh berlalu begitu saja dengan sia-sia.

Tidak boleh melemah. Sebab, kamu dilahirkan sebagai seorang pemenang yang mesti menjalani kehidupan ini dengan semangat yang gagah. Pandanglah kehidupanmu jauh ke depan sana. Fokuskan dirimu pada saat ini untuk terus belajar menjadi lebih baik lagi. Tanpa menunda-nunda dan kamu harus mulai melakukannya dari saat ini.

Sebab, hidupmu adalah hidup yang begitu luar biasa.
---
Buku Masya Allah, Hidupmu Luar Biasa  ini bisa didapatkan di Gramedia seluruh Indonesia.
Pembelian spesial tanda tangan penulis bisa mengisi format ini: Nama Lengkap - Alamat Lengkap - Judul Buku yang Dipesan - Jumlah Pemesanan - No. HP lalu kirimkan ke 081365674102 (WhatsApp/Line)