Teman Seperjalanan


Keraguan-keraguanmu, perasaan-perasaan cemasmu, kekhawatiran-kekhawatiranmu; dengan tegas aku menjawab bahwa aku masih di sini, aku masih pada jalan panjang memperjuangkanmu. Tidak peduli kamu mau diperjuangkan atau tidak, yang jelas aku masih terus berikhtiar semampuku. Sampai suatu saat nanti memang Allah memberikan kode ternyata jalanku buntu.

Aku di sini masih seperti akar-akar yang menancap dalam. 
Yang terus membangun cara bagaimana agar bunga-bungaku bermekaran. 

Aku di sini masih seperti anak-anak sungai. 
Yang terus mencari cara agar perasaanku bisa mengalir pada serambi-serambi hatimu. 

Aku di sini masih seperti pohon-pohon rindang. 
Yang sebisa mungkin memberikan keteduhan untukmu. 

Kamu silakan berjalan pada jalanmu sendiri. Aku tidak pernah memaksa agar kamu berada pada jalan yang sama denganku. Namun, sejauh ini aku masih yakin; orang-orang yang satu tujuan pasti akan bertemu pada jalan yang sama. Dan, aku saat ini sedang menujumu. Apakah kamu juga sedang menujuku? Semoga kita tidak hanya saling berpapasan, semoga kita sama-sama berjalan pada satu tujuan; untuk menjadi teman seperjalanan.

8/10/2018

Kamu Masih Ada Harapan, Sayang


"Kamu masih ada kesempatan, Sayang. Kamu masih ada harapan yang panjang. Jangan karena rumitnya tugas akhir perkuliahan kamu menyerah dan putus asa begitu saja. Kamu pasti punya tenaga untuk menyelesaikan semuanya. Kamu itu bisa. Kamu pasti mampu melewati setiap dinamika pada tahun-tahun akhir di kampus ini; dosen yang parahnya minta ampun untuk ditemui, jurnal-jurnal yang  pas dan sesuai tiada kunjung bertemu, apalagi satu per satu temanmu sudah mulai beres dan selesai. Tidak apa-apa. Kamu jalani semuanya semampumu. Saat kamu memulai, pasti kamu akan selesai," Ibu mendekapku erat. Seolah ada transferan tenaga yang ia berikan dari sela-sela jarinya yang menggenggam jemariku dengan rapat-rapat.

Tahun-tahun akhir di kampus selalu punya kisahnya tersendiri. Ada yang lulusnya cepat, namun setelah itu bingung mau ke mana. Setahun, dua tahun, tiga tahun, belum juga kunjung dapat kerjaan. Ada yang lulusnya "telat", namun tidak lama setelah kelulusan ia langsung bekerja dan membangun impiannya. 

Kisah hidup akan selalu begitu. Setiap orang punya momentumnya masing-masing. Tidak pernah keliru. Semua pas sesuai takarannya masing-masing. Tuhan telah menciptakan momentum untuk kita. Semua akan bersinar pada saatnya. Yakinlah...

Yang tidak boleh kita lakukan adalah menyerah. Sebab, menyerah adalah kalah. Jika kita tetap terus melangkah, maka cepat atau lambatnya pasti akan sampai di tujuannya juga. Baik-baiklah. Jangan cemas dan berputus asa. Allah sayang kamu. Allah ingin melihat seberapa keras perjuanganmu. Yakinlah, di setiap apa yang kamu lalui pasti ada hikmahnya. Tinggal kamu mau peka atau tidak. Tinggal kamu mau memetiknya atau melepasnya begitu saja. 


8/10/2018

Sebuah Rantai atau Tali dari Gulungan Tisu


Saya menyebutnya sebagai rantai masa depan. Segala sesuatu yang saling terkait dari awal hingga akhir. Seperti akar yang menghujam dalam di tanah hingga pucuk daun yang menjulang tinggi ke angkasa. Saling berkaitan dan saling sambung-menyambung dalam prosesnya. Begitu pun fase dalam kehidupan. Dunia sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah, memiliki anak, tua, dan meninggal dunia. Walau bisa saja "meninggal dunia" ada pada urutan setelah kuliah atau bahkan ketika kuliah, atau lebih cepat dari itu ketika "masa sekolah SMA" atau bisa juga setelah fase "menikah". Poin "meninggal dunia" adalah poin yang tidak bisa dipastikan akan diletakkan pada posisi nomor berapa. Karena yang berhak dan yang tahu kapan seseorang akan meninggal dunia hanya Allah. Kita semua sepakat.

Bukan itu yang sebenarnya saya sampaikan. Begini, izinkanlah saya menyampaikannya dengan sebuah analogi. Ibarat sebuah rantai yang saling bersambung dari roller pertama hingga rollernya yang paling akhir. Atau agar lebih sederhana, saya ibaratkan seperti sebuah tali yang terbuat dari gulungan tisu. Ketika basah ujung tali itu, maka basahnya merembes hingga ujung tali yang paling ujung.

Dunia kampus yang sedang Anda jalani, sama halnya seperti tali yang terbuat dari gulungan tisu ini. Juga seperti sebuah rantai yang panjang. Anda kuliah di kampus, kemudian Anda lulus, Anda bekerja, Anda menikah, Anda memiliki anak, Anda tua, dan Anda meninggal dunia. Semuanya saling berkaitan. 

Coba bayangkan, jika pada saat kuliah Anda menjalaninya dengan cara-cara yang tidak pantas; menitipkan presensi (atau lebih dikenal dengan titip absen), melihat catatan atau searching jawaban ujian di google, copy paste tugas yang sangat tidak dianjurkan, menyontek dan cara-cara yang sebenarnya tidak boleh dilakukan tapi Anda tetap melakukannya. 

Kemudian pada masanya, Anda pun dinyatakan lulus dari kampus. Wisuda dan nama Anda pun memiliki titel gelar sesuai dengan jurusan masing-masing. Anda bekerja dan Anda mendapatkan gaji. Kemudian Anda menikah dan menafkahi keluarga Anda. Apakah berkah saat Anda menafkahi keluarga sedangkan ketika di kampus, Anda malah lulus dengan cara-cara yang tidak pantas; sering titip absen, sering liat contekan atau nyari jawaban di google saat ujian, mengerjakan tugas akhir dengan sistem copy paste yang dominan. 

Tentu semua fase dalam kehidupan ini akan selalu saling bersambungan. Saya meyakininya seperti itu. Mengikhtiarkan keberkahan itu pun juga tidak bisa diraih dengan tiba-tiba. Perlu proses panjang dan Anda harus menjaga baik-baik dari prosesnya yang paling awal; memilih untuk tidak titip absen ketika kuliah misalnya.

29/9/2018
06.04 Wib

Tidak Ada Yang Hilang, Yang Ada Hanyalah Kepergian


Semua sepakat, setiap yang ada pasti akan tiada, setiap yang berbunyi pasti akan sunyi. Tinggal bagaimana kita meluaskan hati untuk menerima segala ketetapan yang telah diberikan-Nya.

Bagiku, tidak ada yang hilang, lenyap, dan tak berbekas. Yang ada hanyalah sebuah perjalanan kepergian. Mungkin, lebih tepatnya adalah perjalanan pergi untuk kembali. Pergi dari alam yang fana dan kembali pada alam kepastian yang telah dijanjikan oleh Allah.

Seseorang yang kita sayang, seseorang yang kita cintai, bahkan seseorang yang kita sebalkan pun juga pasti akan pergi. Termasuk, diri kita sendiri juga sama. Pada suatu masa, tidak ada lagi jantung yang berdetak, tidak ada lagi nadi yang bergerak. Seseorang yang benar-benar telah mempersiapkan tidak akan pernah khawatir. Yang khawatir hanyalah mereka yang terlalu sibuk dengan urusan dunia dan melupakan sejatinya bekal yang seharusnya sudah mulai dipersiapkannya.

Satu lagi, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan yang terlalu cinta dunia dan takut akan kematian. Wahn, nama penyakit itu. Allah jagalah kami. :"

28/9/2018
20.42 Wib

Laki-laki berjuang dengan ikhtiar. Perempuan berjuang dengan menunggu. Dua-duanya sama-sama berjuang. Hanya tinggal menunggu waktu untuk bertemu, bertamu, dan bersatu. Semoga dalam setiap prosesnya tetap menjadikan Allah yang nomor satu.

Robi Afrizan Saputra

Saat aku memutuskan untuk menerimamu, artinya aku memutuskan untuk menerima segala kekuranganmu. 

Robi Afrizan Saputra

Baik-baiklah dalam memutuskan. Baik-baiklah dalam menerima. Seseorang yang kamu putuskan untuk diperjuangkan dan seseorang yang kamu pilih untuk masuk ke ruang hatimu adalah seseorang yang akan hadir dalam hidupmu dalam waktu yang tidak sebentar. Karena itu, hati-hatilah dalam memutuskan. Hati-hatilah dalam menerima. Semoga kamu melibatkan Allah dalam memutuskannya dan melibatkan Allah dalam menerimanya. Maka, yakinlah kamu tidak akan kecewa.

Robi Afrizan Saputra

Seberapapun kamu berjuang, jika menurut Allah itu bukanlah orang yang tepat, maka janganlah kecewa dan terluka. Siapkanlah hatimu seluas samudera untuk menerima apapun hasilnya nanti. Alhamdulillah jika diterima. Allahu Akbar jika ditolak. Selamat menguatkan hati untuk melangkahkan kaki mengetuk pintu rumah orangtuanya.

Robi Afrizan Saputra