Ya Allah, Kenapa Hatiku Sering Gelisah



Ya Allah, Kenapa Hatiku Sering Gelisah


Apakah hatimu sedang merasakan kegelisahan?
Apakah hatimu sedang merasakan kekhawatiran yang begitu berlebihan?
Apakah kamu sedang merasakan kecemasan yang begitu luar biasa?
Kemudian, semua itu membuat kamu merasakan ketidaktenangan dalam hidup ini.
Seolah-olah kegelisahan yang kamu rasakan itu hadir begitu saja tanpa ada sebabnya. Perasaan itu lama kelamaan semakin menggunung.  Dari hari ke hari kegelisahan itu semakin memuncak. Kamu merasa semakin khawatir seperti ada yang salah pada dirimu sendiri.
Hatimu merasa semakin khawatir dengan berlebihan. Perasaanmu selalu was-was. Kamu merasakan seperti ada sesuatu yang membebani pikiranmu sendiri. Beban ini dari waktu ke waktu semakin menumpuk, semakin banyak, dan semakin berat.
Ya Allah, kenapa hatiku sering gelisah?

Buku Ya Allah, Kenapa Hatiku Sering Gelisah  ini bisa didapatkan di Togamas dan Gramedia seluruh Indonesia.
Pembelian spesial tanda tangan penulis bisa mengisi format ini: Nama Lengkap - Alamat Lengkap - Judul Buku yang Dipesan - Jumlah Pemesanan - No. HP lalu kirimkan ke 081365674102 (WhatsApp) atau DM ke Instagram @robiafrizan1

7 Langkah Jitu Pasti Bisa Menulis Buku


7 Langkah Jitu Pasti Bisa Menulis Buku
Jika Anda ingin menjadi PENULIS, maka Anda WAJIB membaca buku ini!

Dalam buku ini Anda akan mendapatkan banyak ilmu bergizi tinggi dan penuh strategi tentang:
1. Meyakinkan diri bahwa Anda pasti bisa menulis buku
2. Tujuh langkah jitu Anda pasti bisa menulis buku
3. Tujuh cara mudah mendapatkan ide tulisan
4. Bagaimana tips jitu mengawali sebuah tulisan
5. Cara mudah mengatasi writer block
6. Rahasia menulis satu buku selama satu bulan, bahkan lebih cepat dari itu
7. Cara membuat outline/konsep buku yang juara
8. Strategi jitu menembus penerbit mayor
9. Membuat uang mengalir deras ke rekening Anda hanya karena menulis buku
10. Tiga hal penting yang benar-benar WAJIB Anda ketahui
11. Dan masih banyak ilmu bermanfaat yang lainnya.

Kenapa buku ini HARUS Anda baca?

1. Ditulis oleh penulis yang sudah BERPENGALAMAN bertahun-tahun di dunia kepenulisan
2. Berisi tulisan bergizi tinggi yang bukan hanya teori doang, tetapi menuntun Anda menulis buku dari NOL hingga buku Anda bisa terbit
3. Buku ini TERBUKTI mudah dipraktikkan oleh segala kalangan dalam proses awal menulis buku
4. Bahasa yang sederhana, mudah dicerna, dan dapat dipahami oleh siapa saja.

Buku 7 Langkah Jitu Pasti Bisa Menulis Buku  ini dicetak terbatas, eksklusif dan tidak tersedia di toko buku mana pun. Hanya bisa dibeli dengan cara di bawah ini.
Pembelian spesial tanda tangan penulis bisa mengisi format ini: Nama Lengkap - Alamat Lengkap - Judul Buku yang Dipesan - Jumlah Pemesanan - No. HP lalu kirimkan ke 081365674102 (WhatsApp) atau DM ke Instagram @robiafrizan1

Beberapa Tahun ke Belakang


Beberapa tahun ke belakang adalah masa lalu yang berdebu. Dan, masa sekarang adalah saat yang tepat untuk membersihkan debu itu. Agar perjalanan menuju masa depan bisa lebih baik dari yang dulu.

Jika dulu kamu pernah pacaran, bersyukurlah hari ini Allah hadiahkan hidayah berupa kesadaran bahwa cinta sejati bukanlah dengan pacaran melainkan pernikahan. Dan, untuk saat ini kamu memilih untuk tetap sendiri menjaga rasa sampai benar-benar ada yang serius datang pada orangtua.

Jika dulu auratmu masih dibalut dengan segala yang ketat, bersyukurlah hari ini Allah hadiahkan hidayah padamu tentang kemuliaan perempuan dalam berpakaian; yang longgar, tebal, dan tidak menampakkan perhiasan.

Jika dulu kamu pernah abai pada orangtuamu, semoga seiring bertambahnya usia kamu bisa semakin menyadari bahwa berbakti pada orangtua adalah hal yang utama dalam agama.

Hal-hal seperti ini adalah pelajaran yang harus terus kita ingat. Terlebih seiring bertambahnya usia, semoga bertambah pula kedewasaan kita; dalam memaknai masa lalu, menjalankan masa sekarang, dan merencanakan masa depan.

IG: @robiafrizan1
24/08/2018

Memaknai Bahagia


Cara setiap orang memaknai bahagia barangkali berbeda. Atau bisa jadi memang akan selalu berbeda. Sebab, bahagia punya definisi yang tiada pernah terkira. 

Ada yang bahagia hanya karena bertemu teman lama setelah sekian tahun tidak berjumpa; ada yang bahagia karena rindu pada orangtua dan tersambungkan oleh koneksi telepon via suara; ada yang bahagia karena kegemarannya dalam memberi dan berbagi; ada yang bahagia hanya karena senyuman seseorang yang tepat jatuh di wajahnya; ada yang bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan; ada yang bahagia karena mampu menjaga rasa dengan sebaik-baiknya; dan bahagia adalah milik semua orang, termasuk dirimu.  

Bahagia itu tidak perlu dicari, cukup kamu yang menciptakannya sendiri. Sesederhana itu.

IG: @robiafrizan1
24/08/2018

Berhati-hatilah Pada Perasaan


Merekatkan kembali hati yang retak bak menyusun kembali pecahan piring yang terserak.
Barangkali bisa kembali menyatu, tapi tidak akan pernah utuh seperti dulu. 

Berhati-hatilah pada perasaan. Sebab, ia adalah makhluk maha lembut; tidak boleh tergores, tidak boleh retak, tidak boleh pecah, tidak boleh terjatuh, dan tidak boleh dimain-mainkan. Perasaan adalah maha karya Tuhan yang harus terus dijaga. Oleh pemiliknya dan oleh siapa saja yang ingin mengetuknya.

Berhati-hatilah pada perasaan. Jangan biarkan ia pergi berjalan dengan seseorang yang tak berniat mengajaknya sampai hingga tujuan. 

Izinkanlah perasaan berjalan dengan ia yang jelas tujuan dan arahnya, yang jelas niat dan tanggung jawabnya, yang serius untuk tidak memain-mainkannya. Sebab, perasaanmu adalah lembut dan aku benar-benar serius untuk menjemput. 

13/Agustus/2018
Nusa Tenggara Barat
IG: @robiafrizan1

Ibuk, Jika Aku Menikah Nanti...



"Ibuk, jika aku menikah nanti, perempuan seperti apa yang ibu mau untuk menjadi menantu?" aku bertanya (seolah) serius di sela-sela cadaan suatu senja di ruang tamu rumah kami. 

Ibu tersenyum, kemudian melepas suaranya yang tertahan, "Ibuk ndak banyak pinta, Nak. Cukup bagi ibu perempuan salihah yang menemani hidupmu nanti."

"Ndak apa-apa kalau memang nanti perempuan itu bukanlah orang Minang?" aku melempar pertanyaan.

"Ndak apa-apa," ibu melanjutkan, "Asalkan ia nanti berbakti pada orang tuanya, pada ibuk dan bapak, dan juga mampu menjadi istri yang taat pada suaminya; pada kamu, Nak."

"Bagi ibu, cukuplah ia yang paham dengan agama yang akan menjadi pendampingmu kelak. Sebab, dengan agamanya itu ia bisa paham segala hal; tentang perlakuannya pada suami, tentang pentingnya menghormati orang tua termasuk mertuanya, tentang saling memahami kondisi kalau nanti ada gejolak di rumah tanggamu, dan segala hal lainnya. Termasuk perihal memahami membangun rumah tangga dari bawah, dari yang tidak punya apa-apa. Jika ia paham dengan agama, insya Allah, rumah tanggamu akan baik-baik saja, Nak."

Aku tersenyum, menghela nafas panjang, "Doakan ya, Buk. Semoga Allah segera pertemukan dengannya dan pertamukan keluarga kita dengan keluarganya."

***
Nusa Tenggara Barat, 10/08/2018

Instagram: @robiafrizan1

Jendela Mobil Mewah


Apa-apa yang kita lakukan di dunia, termasuk hal-hal kecil seperti membuang bungkus ice cream dari kaca jendela mobil, suatu saat nanti pasti akan dimintakan pertanggungjawaban. 

Kemarin, 17 Juni 2018, saya berangkat mudik dari Sijunjung ke Bukittinggi (dua-duanya di Sumatera Barat). Waktu tempuh dari Sijunjung ke Bukittinggi lebih kurang sekitar 3-4 jam. Kebetulan suasananya masih lebaran, ada di beberapa titik yang tersendat. Sedikit macet. Namun, tidak semacet di Pulau Jawa.

Sepanjang perjalanan, ada satu hal yang memang menjadi bahan renungan bagi saya. Kendaraan-kendaraan, tepatnya mobil-mobil, yang berjalan di depan kendaraan saya, tidak satu atau dua orang, para penumpangnya membuang sampahnya ke jalanan. Beberapa kali saya klakson. Yang namanya di perjalanan, tak ada satu pun yang peka. Semua mobil yang penumpangnya membuka jendela kemudian membuang sampahnya ke jalan.Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka seolah menganggap bahwa membuang sampah di jalanan dari jendela mobil mewahnya itu adalah hal yang biasa.

Apakah begini sikap dan mental generasi bangsa ini?

Semoga yang membaca tulisan sederhana ini bisa memetik hikmah dan pelajaran dari apa yang saya sampaikan. Sebab, perihal yang seringkali kita anggap sepele selalu memberikan dampak yang besar. Ternasuk, membuang sampah dari kaca jendela mobil. Sepele mungkin bagi sebagian orang. Namun, jika terus dibiarkan seperti itu, kapan penduduk negeri ini akan cerdas dalam menjaga kebersihan? 

Kelak, semoga kita bisa menanamkan nilai kepada anak-anak kita tentang pentingnya menghargai hal-hal yang seringkali dianggap kecil dan sepele oleh orang lain. Karena, kita seringkali terjatuh karena tersandung batu kecil, bukan batu besar.

Begitu pentingnya memperhatikan dan memahami hal-hal yang kecil. Termasuk mengajarkan anak-anak kita agar tidak membuang sampah dari kaca jendela mobil dan mengajarkan mereka untuk menyimpan sampahnya sebelum membuang ke tempat yang memang seharusnya. Tidak berat. Namun, harus dibiasakan. Dari sekarang!

Kacamata Apa yang Anda Pakai?


Setiap manusia pasti akan diuji.

Yang membedakan adalah bentuk ujiannya.

Ada yang diuji dengan wajah yang cantik, otak yang pintar, rupa yang tampan, harta yang banyak, fasilitas yang serba ada. Ada juga yang diuji dengan ketidakmampuan dalam ekonomi, otak yang kurang tajam dalam berpikir, keterbatasan dalam memiliki yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

Dua-duanya sama-sama berada dalam ujian kehidupan. Kalau dengan ujian itu Anda mampu semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka, Anda berhasil melewatinya dengan baik.

Kalau saja harta yang banyak membuat Anda lalai dengan salat atau dengan ketidakmampuan ekonomi Anda malah banyak mengeluh. Bahkan, menyudutkan Tuhan dengan dalih tidak adil. Maka, Anda gagal.

Inilah pentingnya memandang segala sesuatu dengan positif. Walau kita masih sering khilaf dan masih sering juga bernegative thinking. Namun, setidaknya kita sudah memulainya; memulai dari sekarang agar hari-hari ke depannya adalah hari-hari yang dipenuhi dengan pandangan kebaikan. Dan ini, saya sedang menasihati diri sendiri.

IG: @robiafrizan1