Berhati-hatilah Pada Perasaan


Merekatkan kembali hati yang retak bak menyusun kembali pecahan piring yang terserak.
Barangkali bisa kembali menyatu, tapi tidak akan pernah utuh seperti dulu. 

Berhati-hatilah pada perasaan. Sebab, ia adalah makhluk maha lembut; tidak boleh tergores, tidak boleh retak, tidak boleh pecah, tidak boleh terjatuh, dan tidak boleh dimain-mainkan. Perasaan adalah maha karya Tuhan yang harus terus dijaga. Oleh pemiliknya dan oleh siapa saja yang ingin mengetuknya.

Berhati-hatilah pada perasaan. Jangan biarkan ia pergi berjalan dengan seseorang yang tak berniat mengajaknya sampai hingga tujuan. 

Izinkanlah perasaan berjalan dengan ia yang jelas tujuan dan arahnya, yang jelas niat dan tanggung jawabnya, yang serius untuk tidak memain-mainkannya. Sebab, perasaanmu adalah lembut dan aku benar-benar serius untuk menjemput. 

13/Agustus/2018
Nusa Tenggara Barat
IG: @robiafrizan1

Ibuk, Jika Aku Menikah Nanti...



"Ibuk, jika aku menikah nanti, perempuan seperti apa yang ibu mau untuk menjadi menantu?" aku bertanya (seolah) serius di sela-sela cadaan suatu senja di ruang tamu rumah kami. 

Ibu tersenyum, kemudian melepas suaranya yang tertahan, "Ibuk ndak banyak pinta, Nak. Cukup bagi ibu perempuan salihah yang menemani hidupmu nanti."

"Ndak apa-apa kalau memang nanti perempuan itu bukanlah orang Minang?" aku melempar pertanyaan.

"Ndak apa-apa," ibu melanjutkan, "Asalkan ia nanti berbakti pada orang tuanya, pada ibuk dan bapak, dan juga mampu menjadi istri yang taat pada suaminya; pada kamu, Nak."

"Bagi ibu, cukuplah ia yang paham dengan agama yang akan menjadi pendampingmu kelak. Sebab, dengan agamanya itu ia bisa paham segala hal; tentang perlakuannya pada suami, tentang pentingnya menghormati orang tua termasuk mertuanya, tentang saling memahami kondisi kalau nanti ada gejolak di rumah tanggamu, dan segala hal lainnya. Termasuk perihal memahami membangun rumah tangga dari bawah, dari yang tidak punya apa-apa. Jika ia paham dengan agama, insya Allah, rumah tanggamu akan baik-baik saja, Nak."

Aku tersenyum, menghela nafas panjang, "Doakan ya, Buk. Semoga Allah segera pertemukan dengannya dan pertamukan keluarga kita dengan keluarganya."

***
Nusa Tenggara Barat, 10/08/2018

Instagram: @robiafrizan1

Jendela Mobil Mewah


Apa-apa yang kita lakukan di dunia, termasuk hal-hal kecil seperti membuang bungkus ice cream dari kaca jendela mobil, suatu saat nanti pasti akan dimintakan pertanggungjawaban. 

Kemarin, 17 Juni 2018, saya berangkat mudik dari Sijunjung ke Bukittinggi (dua-duanya di Sumatera Barat). Waktu tempuh dari Sijunjung ke Bukittinggi lebih kurang sekitar 3-4 jam. Kebetulan suasananya masih lebaran, ada di beberapa titik yang tersendat. Sedikit macet. Namun, tidak semacet di Pulau Jawa.

Sepanjang perjalanan, ada satu hal yang memang menjadi bahan renungan bagi saya. Kendaraan-kendaraan, tepatnya mobil-mobil, yang berjalan di depan kendaraan saya, tidak satu atau dua orang, para penumpangnya membuang sampahnya ke jalanan. Beberapa kali saya klakson. Yang namanya di perjalanan, tak ada satu pun yang peka. Semua mobil yang penumpangnya membuka jendela kemudian membuang sampahnya ke jalan.Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka seolah menganggap bahwa membuang sampah di jalanan dari jendela mobil mewahnya itu adalah hal yang biasa.

Apakah begini sikap dan mental generasi bangsa ini?

Semoga yang membaca tulisan sederhana ini bisa memetik hikmah dan pelajaran dari apa yang saya sampaikan. Sebab, perihal yang seringkali kita anggap sepele selalu memberikan dampak yang besar. Ternasuk, membuang sampah dari kaca jendela mobil. Sepele mungkin bagi sebagian orang. Namun, jika terus dibiarkan seperti itu, kapan penduduk negeri ini akan cerdas dalam menjaga kebersihan? 

Kelak, semoga kita bisa menanamkan nilai kepada anak-anak kita tentang pentingnya menghargai hal-hal yang seringkali dianggap kecil dan sepele oleh orang lain. Karena, kita seringkali terjatuh karena tersandung batu kecil, bukan batu besar.

Begitu pentingnya memperhatikan dan memahami hal-hal yang kecil. Termasuk mengajarkan anak-anak kita agar tidak membuang sampah dari kaca jendela mobil dan mengajarkan mereka untuk menyimpan sampahnya sebelum membuang ke tempat yang memang seharusnya. Tidak berat. Namun, harus dibiasakan. Dari sekarang!

Kacamata Apa yang Anda Pakai?


Setiap manusia pasti akan diuji.

Yang membedakan adalah bentuk ujiannya.

Ada yang diuji dengan wajah yang cantik, otak yang pintar, rupa yang tampan, harta yang banyak, fasilitas yang serba ada. Ada juga yang diuji dengan ketidakmampuan dalam ekonomi, otak yang kurang tajam dalam berpikir, keterbatasan dalam memiliki yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

Dua-duanya sama-sama berada dalam ujian kehidupan. Kalau dengan ujian itu Anda mampu semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka, Anda berhasil melewatinya dengan baik.

Kalau saja harta yang banyak membuat Anda lalai dengan salat atau dengan ketidakmampuan ekonomi Anda malah banyak mengeluh. Bahkan, menyudutkan Tuhan dengan dalih tidak adil. Maka, Anda gagal.

Inilah pentingnya memandang segala sesuatu dengan positif. Walau kita masih sering khilaf dan masih sering juga bernegative thinking. Namun, setidaknya kita sudah memulainya; memulai dari sekarang agar hari-hari ke depannya adalah hari-hari yang dipenuhi dengan pandangan kebaikan. Dan ini, saya sedang menasihati diri sendiri.

IG: @robiafrizan1

Selamat Menjadi Dirimu Sendiri


Yang pasti akan terjadi saat kamu menggantungkan harapan pada orang lain adalah kecewa. 

Terlebih jika menggantungkan harapan agar bisa diterima sebagai pendamping hidupnya suatu hari nanti. Padahal kamu di hari ini bukanlah siapa-siapa baginya. Masih menjadi "orang lain" untuk dirinya. Masih menjadi seseorang yang belum pasti akan menjadi siapa di masa depannya.

Semakin tinggi kamu berharap, maka akan semakin sakit jika kamu terjatuh.

Lebih baiknya, kamu di hari ini tetaplah menjadi bagaimana dirimu yang sebenarnya. Tidak perlu berharap berlebihan pada siapa-siapa. Tidak perlu menggantungkan harapanmu pada siapapun itu. Biarkan sepenuhnya rencana Tuhan yang bekerja agar suatu hari nanti kamu tidak patah dan kecewa. 

Selamat menjadi dirimu sendiri.
Selamat menjadi seseorang yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

IG: @robiafrizan1 

Memilih Teman Hidup


Barangkali satu di antara pertanyaan yang akan aku sampaikan kepadamu nanti, jika memang telah tiba masa taaruf itu adalah pertanyaan ini,

"Apakah kamu adalah tipikal perempuan yang suka shopping?"

Pertanyaan ini penting. Setidaknya penting bagi diriku (sendiri). Sebab, konsepku akan rumah tangga adalah harus memilih teman hidup yang mampu memanajemen keuangan keluarga

Bagaimana caranya nanti, jika penghasilanku hanya pas-pasan sedangkan permintaanmu atas keinginan (bukan kebutuhan) terus bertambah-tambah. Tentu aku tidak akan bisa memenuhi itu semua. Sebab, rumah tangga muda kita adalah rumah tangga yang baru bertumbuh. Belum punya apa-apa.

Jika di masa kuliahmu...

Kamu lebih memilih menabung daripada berbelanja sesuatu yang bukan kebutuhanmu; kamu lebih memilih berhemat daripada membeli sesuatu yang belum penting-penting banget; barangkali kamu tak akan sulit menjawab pertanyaan itu.

Juga jangan khawatir. Jika memang nanti di rumah tangga muda kita ada sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan bersama dan harus segera dimiliki. Maka, tugaskulah untuk mengikhtiarkannya walau dalam kondisi keuangan keluarga yang begitu pas-pasan. Semampunya aku akan mengusahakannya. Selagi jalan itu halal dan thayyib, maka aku akan terus mengikhtiarkannya. Sebab, itulah tugasku, sebagai suami untukmu yang bertanggung jawab penuh dengan kebutuhan rumah tangga (muda) kita.

Semoga kamu (perempuan) yang di sana, sudah memulai belajar memanajemen keuanganmu kini demi rumah tangga mudamu nanti.

IG: @robiafrizan1

Tidak Perlu Khawatir, Tenanglah...


Sebagaimana pun kelamnya masa lalu, janganlah khawatir, kamu masih punya masa depan. 

Sebagaimana pun pekat dosa-dosamu, tenanglah, Allah Maha Pemaaf kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Kamu boleh menangis dan kamu boleh menyesal atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Tetapi kamu tidak boleh berputus asa. Sebab, Allah begitu Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya. 

Kamu hanya perlu menyesalkan setiap dosa-dosa yang telah diperbuat. Kemudian, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Kamu harus bersungguh-sungguh untuk memohon ampunan dan serius untuk bertaubatan nasuha.

Astaghfirullah...

Duhai Allah, maafkanlah kami yang seringkali melampaui batas.
Duhai Allah, maafkanlah kami yang masih sering bermaksiat.
Duhai Allah, maafkanlah kami yang sering lalai dengan kewajiban.

Baca pelanlah firman Allah yang begitu romantis ini, "Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Semoga di waktu-waktu ke depan, kamu terus bersemangat untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amalan kebaikan.

Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Setiap orang punya masa lalu dan setiap orang juga punya masa depan. :')



Follow Instagram @robiafrizan1