“DUNIA HANYALAH PERSINGGAHAN”

8:00 PM Robi Afrizan Saputra 0 Comments


Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dunia terus meroket. Kecanggihan produk teknologi bahkan sudah merambah sampai ke angkasa luar. Namun di sisi lain, kemajuan demi kemajuan itu ternyata juga membuat umat Islam kehilangan kendali hingga menyebabkan mereka kian kehilangan pijakan hidup. Apa yang digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya ratusan tahun lalu kini pun beranjak menjadi kenyataan. “Suatu zaman nanti umatku akan bagaikan hidangan yang diperebutkan dari berbagai penjuru.” Mendengar itu para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah mereka yang ketika itu sedikit ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Tidak, mereka dalam jumlah yang besar, tetapi mereka bagaikan buih ditengah lautan.” Sahabat bertanya lagi, “Kenapa wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab, “Karena mereka telah terjangkit wabah wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.”
Gaya hidup bermewah-mewahan dengan segenap kemegah-megahannya kian sulit dielakkan umat ini. Segala kenikmatan dengan harta yang berlimpah ruah, jabatan dan kedudukan yang pasti akan musnah, ternyata lebih sering membuat lupa kepada Sang Pencipta dan arti hidup sebagai hamba Tuhan yang pada hakikatnya tidak punya apa-apa. Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam firmanNya, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, akan Kami penuhi upah kerjanya tanpa dikurangi sedikitpun. Orang-orang itu nanti di akhirat tidak akan mendapat apa-apa, kecuali api neraka. Sementara hasil kerjanya disana menjadi nihil saja. Percumalah apa yang mereka kerjakan itu” (QS HUD :15-16) Persinggahan! Ya, dunia hanyalah persinggahan. Sedangkan kita manusia tidak lebih dari tetamu saja. Adapun segala yang kita miliki saat ini pada hakikatnya hanyalah pinjaman dariNya. Sunnatullah dan logikanya, persinggahan adalah tempat pemberhentian untuk tinggal beberapa waktu, sedangkan seorang tamu, cepat ataupun lambat pasti akan kembali ke negeri asalnya. Begitu pula segala pinjaman, suatu saat pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya, yakni ALLAH SWT. Berbicara tentang wabah penyakit wahn, maka persoalan kita sesungguhnya adalah pada terlalu cintanya kita kepada sesuatu yang sifatnya hanya sementara daripada sesuatu yang kekal abadi di akhirat sana.Padahal, kita menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada makhluk yang akan hidup selama-lamanya di dunia fana penuh fatamorgana ini. Hanya ALLAH Rabull Izzati yang Maha Abadi dengan segala keabadianNya.
Maka dalam hal ini, sekiranya kita mampu memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan untuk berbekal, tentu tidak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk mencintai persinggahan itu, apalagi kita lengah karenanya. Akan tetapi, yang ada hanyalah mencintainya dengan kesuksesan mengais bekal sebanyak2nya untuk sesuatu yang diyakini kekal di akhirat sana. Mendapatkan Ridho dan Cinta ALLAH jelas membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Maka berjuanglah di jalanNya dengan menempatkan cinta kepada ALLAH dan RasulNya diatas cinta segala2nya. Dan cukuplah “ALLAH sebagai penolong kita”.
“Tidak mencintai dunia bukanlah bermakna meninggalkan dan menjauh darinya. Akan tetapi, mencintai dunia dapat kita maknai, bagaimana kita hadir di dalamnya, bekerja dan berkorban untuk sampai ke tujuan, di pelabuhan yang sesungguhnya. Disinilah kita perlu mengambil dunia untuk meraih bahagia dalam keabadian, bukan semu dalam kemegahan dan kebahagiaan yang sebenarnya hanya tipuan saja.” Cinta kepada dunia bagi mukmin sejati adalah cinta yang melahirkan amal shaleh selagi dunia itu ada dan menjadikanya jembatan yang akan mengantarkan kita ke syurga dengan segala kenikmatan. Cintailah dunia agar dunia ini bisa memberikan bekal kepada kita. Letakkanlah ia dalam genggaman, dan jangan simpan ia di lubuk hati yang paling dalam.(R.A.S)
“Dan bersegeralah kamu berbuat kebajikan yang dapat menyampaikan kepadamu pengampunan Tuhanmu, dan memasukkanmu ke dalam syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali-Imran : 133)

You Might Also Like

0 komentar: