Ayah, Cepat Sekali

7:45 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

Malam itu kelam , gelap tanpa bintang. Sudut ruangan itu sunyi dan senyap . Sesekali hanya suara cicak yang terdengar, kadang terdengar pula suara jangkrik yang sedang bermain dihalaman. Debu di sudut kamar diatas meja dekat vas bunga masih ada , mungkin dia tidak sempat membersihkannya atau karena tidak terlihat ketika ruang tidur itu dibersihan.

Seketika kesunyian tersentak lalu pecah dan berderai. Raungan isak tangis terdengar sayup-sayup ditelinganya.  Langsung saja Sekar menelusuri sumber isak tangis itu. Kemudian Sekar terhenti didepan pintu kamar Ayah, karena dia merasakan suara isak tangis itu semakin jelas disana. Didorongnya pintu kamar yang tak bergagang lagi, kemudian keluar dan melekatkan telinganya di pintu kamar itu. Ternyata isakan tangis itu berasal dari suara Ibu. Samar-samar Sekar memastikan bahwa suara itu memang milik Ibu. Karena penasaran, Sekar memberanikan diri membuka pintu kamar tersebut,  ditatapnya Ibu secara diam , Ibu tak merespon seolah-olah mempersilahkan Sekar untuk masuk.  Sontak melihat Ibu yang mengusap-usap kening Ayah , butiran permata jatuh dan berlari-lari diatas pipi Sekar.

“Ibu , ada apa dengan Ayah?” Tanya sekar dengan sedih bercampur penasaran.

Ibu hanya diam , menangis dan menangis,  membiarkan aliran sungai air mata bergerak dengan deras.

“Buu , ada apa Buuuu? Kenapa Ayah? Apa yang terjadi pada Ayah Buu? ” Nada suara Sekar bertambah keras , raut wajahnya berubah kecewa.

Ibu menatap wajah Sekar , menghapus air mata dan mencoba tegar seperti karang yang dihempas gelombang.

“Naakk, duduklah disamping Ibu” Ungkap Ibu sembari menghapus air matanya dan meyakinkan bahwa keadaan biasa-biasa saja.

Lalu Sekar duduk , memegang tangan Ibu dan menatap pasti wajah Ayah yang dia mengira Ayah sedang lelah dan tidur dengan pulas.

“Ada apa dengan Ayah Bu? Apa sakit Jantung Ayah kambuh? ” Tanya Sekar sekali lagi.

“Kamu jangan kaget ya Nak , Allah telah  mempersilahkan Ayah maju selangkah mendahului kita. Jangan sedih , setiap manusia pasti akan kembali pada-Nya. Yakinlah bahwa Ayah pergi dengan cara yang baik Nak dan Ayah akan masuk Surga. Allah sayang kita semua” Jawab Ibu dengan mengusap rambut Sekar dan menghapus air mata Anak sebatang karanya.

Sekar meraung , menangis di kegelapan malam. Sekar tidak percaya Ayahnya telah pergi. Begitu cepat Israil menjemput. Setelah Shalat Isya tadi , kami masih bercengkrama. Memperbincangkan kemana Sekar akan melanjutkan kuliah.  Sekar berkeinginan ke Pulau Jawa , meninggalkan Ranah Minang dengan alasan Sekar ingin berkompetisi dengan teman-teman barunya di Jawa, jika memang lulus di UNDIP , perguruan tinggi idamannya. Tapi Ayah melarang, Ayahnya cemas.

 “Kamu anak perempuan Nak, pergaulan dipulau Jawa itu tanpa batas” Ungkap Ayah empat jam yang lalu , sekitar jam 9’n malam.

“Jika memang kamu lulus , bagaimana dengan Ibu. Kalau Ayah dijemput Yang Maha Kuasa. Nanti Ibu sendirian lagi dirumah” Lanjut Ayah seraya bercanda dan tertawa.

Sejenak Sekar termenung karena mengingat bahwa dia masih bersama Ayah beberapa jam yang lalu. Jika Allah berkehendak , begitu cepat Allah merealisasikan.

“Buu , perkataan Ayah tadi yang dibawa sambil gurauan ternyata pertanda bahwa Ayah memang akan pergi ke surga” Ungkap Sekar mencoba tegar walau hatinya tengah gempar dan berdebar dengan keras.

 “Iya Nak , apapun yang terjadi semua kehendak Yang Maha Kuasa. Dia yang menciptakan dan kepada-Nya pula kita dikembalikan” Jawab Ibu.

Tidak terasa jarum jam berjalan dengan cepat. Subuh pun menjelang. Sekar disuruh Ibu untuk pergi kerumah tetangga sebelah, Bu Leha namanya, memberitahu bahwa Ayah telah berjalan menuju Surga.

Kemudian Bu Leha menuju Masjid dan memberitahu pengurus Masjid bahwa salah satu warga kompleks perumahan telah dijemput oleh-Nya.

Setelah Shalat Subuh berjamaah selesai, pengurus Masjid mengumumkan bahwa Ayah Sekar telah meninggal. Satu per satu warga mendatangi rumah Sekar. Mengungkapkan belasungkawa hingga membaca yasin dan berdo’a agar Allah memudahkan jalan untuk Ayah Sekar.

Di Penghujung Shalat Subuhnya, Sekar Berdo’a
“Ya Allah , Tuhan Yang Maha Memiliki. Izinkan hamba meminta kepada-Mu. Permudahlah jalan Ayah menuju Surga. Ampuni dosa-dosanya, bersihkanlah hatinya hingga dia tenang di alam sana. Ya Allah , Tuhan Yang Maha Pengasih, tegarkanlah kami yang ditinggalkannya, kuatkanlah Ibu dan Ya Allah Ya Tuhanku, Izinkan Sekar bertemu Ayah dalam mimpi saat Sekar merinduinya”
aamiin

You Might Also Like

0 komentar: