Angin Sampaikan Pada Tuhan Aku Ingin Bercerita

4:28 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

“Kau tidak tahu diri , dimana akan kau letakkan wajahmu, sudah tidak punya orangtua , banyak tingkah lagi dan pengadu” Hina seseorang pada Sari yang sedang duduk di sudut kelas bagian belakang. Tepat diatasnya daftar pelajaran yang menggantung. Sari duduk sendirian di sudut kanan kelas. Tanpa bintang , hanya berteman seberkas debu yang diterbangkan angin.

Siang itu , jam pelajaran kosong. Tepat jam pelajaran akhir. Sari puas dihina oleh sebagian teman kelasnya yang bergelar ‘ratu gosip’ disekolahan. Tiap hari , hampir tiap ada kesempatan Sari selalu dihina , dicemooh dan diremehkan oleh mereka yang tidak pernah sadar diri. Selalu menganggap temannya lemah , seolah-olah ‘si ratu gosip’ yang terkaya dan terhebat. Mereka tidak sadar akan kekayaan mereka , mereka lupa pada Tuhan bahwa harta mereka Tuhanlah yang memberikan.

Sari ketika dihina memang sering berkata bahwa , nanti akan aku adukan kalian. Entah kepada siapa mereka akan diadukan , Sari tidak memiliki orangtua lagi. Sari tinggal di kost , kepada Ibu kost tidak mungkin dia akan mengadu karena Ibu kostnya cuek dan tak banyak memberikan perhatian kepada anak-anak kostnya. Apalagi Sari , hanya yatim dan piatu , uang kost pun sering menunggak. Bagaimana Ibu kost akan memberikan perhatian padanya. Diskriminasi.

“Hei , kepada siapa kau akan mengadu, tak punya orangtua kan” Ejek kumpulan ratu gosip pada anak yatim piatu itu dengan terkekeh-kekeh.

Sari hanya diam menundukkan kepala. Jika melawan dan menjawab, palingan dia akan habis terkena ceramah tanpa solusi. Bulir-bulir bening jatuh dari kelopok matanya. Membasahi kelembutan kulit pipinya lalu diam , bisu tanpa perlawanan. Selalu Sari lakukan itu. Sedangkan mereka tertawa saat menghina Sari.
***

Bel pulang berdentum. Menggema dan memekakkan telinga siswa. Sari menyandang tas, melangkah cepat terburu-buru. Tak sanggup menumpahkan air matanya di kelas. Nanti Sari tambah dihina dan dibilang cengeng.

Berjalan menundukkan kepala , langsung menuju kos yang kira-kira jaraknya 500 meter dari sekolah.
Tak tahan , saat 75 meter mendekati kos. Air matanya bergelimang , berjalan dan berlari diatas pipi manisnya. Langsung saja Sari mempercepat langkah menuju kost yang ditempatinya semenjak kelas 1 SMA dulu. Sekarang Sari kelas 3 SMA. Sebentar lagi akan tamat dan akan meninggalkan gerombolan ratu manis yang hobby gossip disekolahnya.

Takut tangis nya diketahui teman satu kost, Sari langsung masuk kamar. Kebetulan saat ini Sari hanya menempati kamar sendirian. Teman kost nya pulang kampung , karena orangtua sedang sakit.
Tak lama , azan Ashar menggema dari Masjid Syuhada yang berada di dekat kostnya. Dibasuh tubuhnya dengan aliran air wudu yang terpancar dari kran sudut kanan belakang kost. Kembali masuk ke dalam kamar dan mulai bercerita pada Tuhan.

Gerakan demi gerakan shalat telah selesai dilakukannya. Ujung duduk tasyahud akhir , sebelum salam , kembali butiran kristal berlari-lari di pipinya.
Sari menunduk , lemah dan menadahkan tangan. Mulai bercerita pada Tuhan , mengadu akan tingkah mereka yang selalu menghinanya. Selalu menganggap Sari lemah.

Lewat lembut sapaan angin yang menyusuri ventilasi kamar kostnya. Sari mengucap dengan penuh kelembutan.

Angin sampaikan pada Tuhan aku ingin bercerita. Angin , aku tahu engkau baik dan tak pernah menolak untuk menerbangkan daun yang hendak menyatu dengan tanah . Angin , lewat rabaanmu aku merasakan engkau didekatku. Angin , hantarkan cerita dalam doaku ini pada Tuhan.

“Tuhanku , Sang Pemilik Bumi dan Alam Semesta. Aku lemah , tak berdaya ketika mereka meremehkanku , tak kuat ketika mereka menyebutku anak yatim dan piatu. Tuhan , aku tahu saat ini aku hanya sebatang kara , tanpa Ibu apalagi Ayah. Aku yakin Engkau akan selalu bersamaku. Lewat cerita ini , aku berdo’a pada mu , berikan aku kekuatan untuk menerjang segala badai terpaan yang datang. Tuhanku , Maha Penyayang, sayangi aku , aku tanpa ibu , tanpa ayah , banyak mereka menganggapku remeh karena tak memiliki kedua pahlawanku itu. Dalam keheningan dan lembutnya angin yang datang , izinkan aku menitip sepotong rindu pada Ayah dan Ibu. Tuhan , bahagiakan mereka di Surga.”

Cerita dalam doa Sari ba’da ashar itu , berteman dengan kelembutan angin nan elok dan seberkas tangis kerinduan.

“Tuhan , berikan sedikit cahaya pada mereka yang belum dewasa, yang senantiasa menganggapku lemah dan selalu meremehkan aku yang saat ini tanpa Ibu , tanpa Ayah. Tapi aku masih memiliki-Mu , tempat mengadu dan menumpahkan cerita kerinduan dalam setiap bait doa yang terucap”

Aamiin , tutup Sari sore itu.

You Might Also Like

0 komentar: