Jendela Senja

4:37 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

Sepertinya pagi ini bukan pagi biasanya. Suara lantang kokokan ayam seolah-olah memecahkan gendang telinga. Pagi ini sangat cerah , secerah semangatku untuk merangkai puzzle-puzzle  mimpi . Sinaran matahari juga seolah-olah kembali membakar bara api ini untuk terus berkarya

 “Ahh , kenapa aku bermalas-malasan!” Ungkapku dalam hati sambil menyibakkan selimut lusuh yang kira-kira belum dicuci satu bulan ini. Emang bau sih , tapi setidaknya masih bisa dipakai.

Selimut ini adalah bekas kakak ku yang telah dahulu berjalan menuju surga.

“Masa depan dan mimpi-mimpi itu harus kuraih dan kurangkai , harus memulai meniti langkah keberhasilan dari sekarang, kenapa aku harus bermalas-malasan” Suara hatiku berbisik.

“Senja, kamu harus berhasil , kamu harus membahagiakan kedua orangtuamu” Suara hatiku kembali bersuara.

Percakapan antara aku dan suara hati ini kembali terjadi.

Seolah-olah bisikan suara hati pagi ini kembali menghangatkan seonggok bara semangat yang akan membakar cita dan impianku untuk menjadi pengusaha. Memang, sejak kecil dulu aku bercita-cita menjadi pengusaha walau aku seorang perempuan, tapi itu tak pernah menjadi hambatan bagiku. Dulu aku berpikir, pengusaha itu kaya dan hanya dengan kaya kita bisa berbagi. Memang benar,  Itulah semangatku untuk menjadi seorang pengusaha, aku harus bisa berbagi kepada sesama makhuk Tuhan  yang membutuhkan.

Rasa malas tadi telah kubuang jauh-jauh. Jendala kayu yang sudah lapuk bahkan setiap sudutnya sudah dimakan rayap mulai aku buka. Sinar matahari pagi menghiasi wajah manis ini , sambil melekatkan jemari di emperan jendela. Aku berteriak keluar gubuk rapuh tempat tinggalku, menghadap hamparan sawah nan luas.

“Senjaaaaaaaaaaaa, kamu harus sukses dan kamu harus kaya karena hanya dengan kaya kamu bisa berbagi !” Suara lantang dan tegas remaja mungil sepertiku menggema hingga pelosok sana, melewati rentetan pematang sawah dan melompati sungai-sungai kecil yang memanjakan alam desaku. Tak ada yang bisa menghalangi langkahku untuk sukses, panjangnya pematang sawah tiada putus seperti pula  jalanku untuk sukses. Walau ada sungai nan deras, itu tak akan menghalangiku melompat ke daerah seberang. Semua pasti ada cara jika aku mau berusaha , jalan-jalan kemudahan akan selalu terbuka.

“Kenapa kamu nak? Pagi-pagi udah teriak ga jelas” Sahut ibu sejak belakang yang sedang memasak ‘samba lado pucuak ubi’ untuk bekal ayah ke ladang.

“Ga ada bu, pagi ini serasa lebih hangat bagi Senja. Selepas bangun tidur tadi , Senja kembali mengingat mimpi-mimpi lama yang telah layu. Sontak , suara hati Senja berbisik bahwa Senja harus sukses. Spontan saja Senja berteriak seperti tadi”

“Oh begitu nak , jangan terlalu keras nanti adikmu yang demam terbangun. Kasihan liat dia”

“Maaf ya bu, besok Senja berteriaknya ga keras-keras lagi”

“Kalau tidak keras, itu namanya mah ga berteriak tapi berbisik, hehehe” Sambung Ibu sambil sedikit bercanda”

“Aduh Ibu ada-ada aja” Balasku sambil meninggalkan emperan jendela menuju dapur mendekati Ibu.

“Oh ya bu, mohon do’anya ya bu, Cita-cita Senja yang dulu harus Senja wujudkan. Senja  harus jadi pengusaha” Ungkapku sambil memegang pundak Ibu dan meyakinkannya.

“Iya nak, sebisa mungkin akan Ibu perjuangkan. Ohiya bangunkan adikmu dan ‘basuh’ badannya. Setelah itu susul Ibu ke sawah dan jangan lupa siapkan bekal nasi untuk Ayah ke ladang”

“Oke bu, ‘samba lado pucuak ubi’nya udah masak ya bu?”

“Sudah nak, nanti jangan lupa matikan ‘baro api’ yang ada ditungku. Ibu berangkat ke sawah dulu ya”

“Iya bu, hati-hati bu. Nanti senja susul”

Ibu mulai melangkah keluar rumah dan menelusuri pematang sawah. Kutatap serius punggung Ibu tanpa kedipan sekalipun.

“Ibu, Senjaaaaaaa akan jadi pengusaha” Teriakku dengan keras dan meyakinkan Ibu yang telah berdiri di pematang sawah

Suara tua ibu merespon sambil tersenyum “Iya nak , man jadda wa jada. Jika kamu bersungguh-sungguh pasti kamu akan mendapatkannya” Kembali Ibu melanjutkan perjalanan menuju sawah yang letaknya paling ujung.

                                                                         ***

Tugas demi tugas pagi ini selesai dilaksanakan , bahkan matahari sudah condong menuju barat. Ibu dan aku pun telah selesai membenih padi. Langkahan kaki kami menghiasi ‘sunset sawah’ dipematang senja ini. Tepat di persimpangan sawah, kami bertemu dengan ayah yang pulang dari ladang. Tak lama, kami pun sampai di istana sederhana yang menjadi tempat tinggal keluarga kecil ini.

Sesampainya dirumah, aku langsung menuju emperan jendela. Menghadap mentari sore yang men’sunset’kan hamparan sawah. Kembali berteriak seraya berkata “Senjaaaa haruuus sukseeeees!!”
Itulah kebiasaan yang sering aku lakukan. Kadang menjadi rutinitas walaupun sebagian orang menganggap tidak penting. Berteriak menghadap hamparan sawah sambil meyakinkan bahwa aku akan sukses.

Jika pagi hari , teriakanku berteman dengan sinar mentari pagi kadangkala ditemani oleh kabut-kabut dingin penuh misteri. Sore hari menjelang, teriakan ini berteman dengan matahari senja tak jarang pula ditemani barisan petani negeri kami.

Itulah kebiasaanku, berteriak di emperan jendela setiap pagi dan sore menghadap hamparan sawah dengan mengatakan ‘Aku akan sukses dan kaya , karena hanya dengan kaya aku bisa berbagi ! “
Aku Senja , Sang pembeda yang akan sukses terlebih dahulu dari kalian sang penikmat dunia semata !!!

You Might Also Like

0 komentar: