Secabik Hati Angela

4:33 AM Robi Afrizan Saputra 1 Comments

Dibawah pohon beringin tua yang kira-kira seumuran dengannya. Disudut lapangan volley dekat perpustakaan sekolah. Angela duduk diam memandang birunya langit. Daun-daun beringin yang berguguran berkawanan angin sepoi-sepoi menemaninya siang itu. Jam Ishoma. Memang sengaja tidak pergi ke Mushola , Angela hari itu tidak boleh Shalat.

Beringin yang menyejukkan hatiku.
Angin yang membelaiku dengan lembut
 Sinaran matahari yang terpancar disela-sela dedaunan beringin sampaikan pada dia bahwa aku bukan untuk dipermainkan.
 Aku bukan boneka apalagi robot-robotan.
 Aku masih mempunyai jiwa dan jiwa itu masih suci.
 Aku akui diri ini hanyalah sebatas jasad yang bernyawa , kau berikan harapan palsu padaku.
 Kau berikan aku luka tanpa darah.
 Dulu, angin sampaikan padaku bahwa kau menyayangiku.
 Kau juga pernah bercerita pada bulan bahwa kau tertarik padaku.
 Bumi juga memberi pertanda lewat bisikan penghuninya bahwa kau mencintaiku.
 Namun , apadaya ternyata manusia memang tak ada yang sempurna.
 Yang dulu kau katakan hanya ucapan emas tanpa janji.
 Emas palsu.


Angela menggores kalimat itu dalam selembar kertas yang dipegangnya. Diakhir tulisan, sudut bawah sebelah kanan kertas ditulisnya “Angela Oktava”. Itu namanya , samar seperti nama orang Rusia. Benar , dia cantik tapi saat ini hatinya sedang dipermainkan.

“Kenapa kamu say , kok melamun , sendirian lagi” Ucap Tari yang mengagetkan Angela dari belakang dengan menepuk punggungnya.

“Eh kamu Tar, ngagetin aja, aku lagi mikirin yang kemarin aku ceritain Tar” Balas Angela

“Ahh sudahlah , ngapain masih dipikirin , jelas-jelas dia cuma ngasih harapan kosong sama kamu kan” Tari mencoba menasehati

“Ya begitulah Tari , sudah coba move on sih. Tapi masih tetap kepikir” Jawab Angela sedih

“Angela , sahabatku yang cantik. Ingat , dia itu Cuma ngasih harapan aja sama kamu. Mendingan kamu fokus pada masa depanmu , melupakan orang-orang yang tak pernah menghargai perasaanmu. Oke”

“Oke. Tapi…….”

“Tapi apaan lagi , lupain aja dia yang tak bernurani itu”

Sejenak hening tenggelam dalam kesunyian sudut perpustakaan dekat pohon beringin itu. Angela dan Tari hanya diam. Tampak wajah kecewa dari sudut mata Angela. Tetapi , mau tidak mau Angela harus melupakan Ryan. Cowok yang mempermainkan perasaan Angela. Selalu memberikan perhatian tapi tanpa harapan. Coba Tari meyakinkan Angela bukan hanya dia cowok di dunia ini.

“Masih banyak penduduk Bumi , La. Ngapain kamu masih sedih karena dia” Ungkap Tari memecahkan keheningan

                                                                              ***

Matahari berjalan menuju senja dan jingga telah menampakkan rupanya. Larut sore. Bel sekolah berbunyi pertanda bahwa jam pelajaran berakhir. Angela , gadis cantik berparas Rusia lunglai , lelah hari itu. Hatinya dicabik harapan kosong. Luka tapi tanpa darah. Angela kecewa , ingin marah tapi pada siapa.

Ba’da Isya, getaran kata-kata yang dulu pernah diucap Ryan kembali terngiang-ngiang dalam batinnya. Flashback. Semua kembali teringat. Dulu , dia menjanjikan Angela sekuntum kembang pada suatu hari. Namun , hingga detik ini kumbang itu belum juga datang menghantarkan sekuntum kembang. Hati Angela cabik , luka tanpa darah.

Handphonenya bergetar , pertanda ada pesan singkat yang menyapa. Angela aktifkan dan membuka inbox. Dikira Angela dari Ryan yang dulu senang berpuitis dengan nada gombal setiap malam. Ternyata pesan singkat dari Tari , sahabat karibnya.

“Malam sahabatku sayang, masih galau? Ni aku ada obat galau, hehehe” Tulis Tari dalam pesan singkat itu

“Ahh, kamu. Aku udah move on loh. Siap dan memulai melupakan cowok yang mempermainkan hatiku itu” Balas Angela

“Oke sayang , itu baru sahabatku” Kembali Tari membalas

Angela tidak lagi membalas. Mungkin saja , rasa kecewa yang ditanamkan Ryan masih terasa. Kembali , semua ucapan dari mulut Ryan teringat olehnya. Tulisan dalam pesan singkat dari Ryan di inbox handphone belum dihapusnya. Pesan singkat itu dibuka Angela , mengingat masa-masa dulu. Sakit , memang sakit. Hanya harapan kosong yang didapat Angela.

“Daripada pesan lusuh ini membuat air mataku mengalir tanpa arah, lebih baikku hapus tanpa bekas” Ungkap Angela dalam kesendirian dengan nada kecewa berpadu emosi.
Setelah itu , Handphone dimatikannya. Sendiri , diam , kecewa, sedih bercampur semua rasa itu pada dirinya. Tak tau pada siapa bercerita. Pada Tari? Handphone sudah mati, malas sekali untuk mengaktifkan kembali.

Diputuskannya sepihak. Dia ingin bercerita pada kertas , berharap Tuhan melihat kertas yang ditulisnya. Dalam kertas itu tergores untaian kata mengandung seribu makna bagi Angela.

Tuhanku,
Aku Angela remaja mungil yang baru mengenal cinta,
Perasaanku lembut,
Sutera itu lembut tapi bagiku perasaan ini lebih dari itu,
Aku tak ingin dipermainkan,
Hanya harapan kosong,
Tanpa janji,
Tuhan,
Sadarkan dia yang telah menyakitiku,
Agar perempuan lain tak ikut menjadi korban perasaan,
Tuhanku,
Aku dalam kesendirian bertekad melupakannya,
Tak lagi mengingat bahkan tak akan mengenalnya lagi.
Terimakasih Tuhan,
Terimakasih untukmu yang telah mempermainkan hatiku,

Aku tak kan mengenalmu lagi.


Tutup Angela dalam puisinya. Dibacanya berulang-ulang. Hatinya semakin sedih. Luka dan tak berdarah bagai tersayat sembilu tajam. Dalam keheningan malam , Angela sendirian.
Berteman kertas puisi dan sebatang pulpen Angela terlelap.

Hatinya cabik dipermainkan.

You Might Also Like

1 komentar:

  1. Salam. Robi. Izin share komen ya :-D
    Nice... simple... meskipun datar *eits, dari sudut pandang ana ya, hehe...
    Yup, mari berkarya. Salam ukhwah.

    BalasHapus