Membangun Keintiman dengan Allah

7:09 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments


Berlaku intim bukan hanya bisa dilakukan bersama pasangan hidup saja. Selain bersama suami atau istri, intim juga bisa dilakukan dengan Allah.

Keintiman dengan Allah adalah sikap terbaik yang harus dimiliki setiap ummat.  Keintiman dalam berpasangan hanyalah kesemuan belaka. Seketika bisa menghilang. Namun keintiman dengan Allah tidak akan pernah ada duanya. Harus selalu dijadikan nomor satu.

Sebagian orang tidak mempedulikan diri untuk intim bersama Sang Pencipta. Banyak hal yang menyebabkan mereka tidak acuh pada Allah, seperti terlalu mementingkan dunia, sibuk dalam bekerja, lelah dan godaan syaitan lainnya.

Sebenarnya, untuk membangun keintiman dengan Allah bukanlah perkara yang sulit. Selagi mau berhubungan intim bersama-Nya, jalan apapun pasti akan ditempuh. Ketika perjalanan pulang menuju rumah dari kantor, Azan berkumandang. Kita dapat memberhentikan kendaraan, lalu menunaikan Shalat di masjid terdekat. Ini salah satu bukti keinginan untuk berlaku intim bersama Allah.

Intim disini berarti dekat. Membangun keintiman dengan Allah berarti membangun kedekatan dengan-Nya. 

Lantas, bagaimana cara kita membangun keintiman (kedekatan) dengan Allah ?

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut.

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah.

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat.

Kesepuluh, kita harus menjauhi segala sebab yang dapat menghalangi antara diri kita dengan Allah Ta’ala.

Semoga bermanfaat :)

daftar bacaan : kaskus

You Might Also Like

0 komentar: