Rp. 2.500

7:39 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

Sebuah cerpen dari Robi Afrizan S

Tempat ini bukan pasar, kenapa begitu ramai ?
Langitpun telah menjingga memayunginya. Pertanda kelabu kelam akan menghilangkan bayang-bayang. Mengganti siang menjadi malam.

Poros jalan Simpang Tugu begitu sumpek. Padat dan macet. Ragam wajah dari sudut sekitar Muaro turut meramaikan. Tidak hanya itu, jejeran lapak dari BRI hingga Sibinuang Sakti membuat jalan semakin menyempit. Merubah keadaan yang tidak seperti biasanya. Roda dua terparkir tidak begitu rapi. Menyulitkan kendaraan lain untuk melintasi poros jalan ibukota ini.

Tepat di depan BRI, pedagang tarompa terlihat menyusun sepasang duapasang barang terbaru. Tarompa lebaran yang siap dijajanya. 

Istana balon juga berdiri dekat penjaja tarompa. Anak kecil bergerumun ingin memasuki istana berisi udara itu. Terlihat seorang bocah tetap diluar. Turut tersenyum saat anak kecil dengan girang melompat-lompat di dalam istana. Hanya sekitar lima menit, bocah itu berlari menuju Simpang Tugu. Pusat keramaian sore hari, bulan ini. Disini, tempat orang menjual banyak jenis pabukoan. Mulai dari lamang tapai, cindua, gulai talua, aia aka hingga es tebu dijajakan.

Gerobak es tebu menarik perhatiannya. “Jika berbuka nanti dengan es tebu, duhh segarnya” Lambat suara bocah itu terdengar dari sudut bibirnya yang tersenyum. Sepertinya, dia ingin menikmati berbuka dengan kesegaran es tebu.

Tiba-tiba, raut wajahnya mengerunyut melihat harga es tebu di badan gerobak. Tiga ribu rupiah.  Sedangkan disaku hanya ada Rp. 2.500. Sejenak bocah kecil itu diam dan termenung. Berpikir bagaimana cara mendapatkan lima ratus rupiah lagi.

Kemudian, Dia berjalan hilir mudik. Fokus melihat aspal. 

“Mudah-mudahan saja, ada uang yang terjatuh. Lima ratus rupiah cukup” Ungkapnya terengah-engah dengan penuh fokus.

Lima belas menit sudah dia bolak-balik sepanjang jalan Simpang Tugu. Tidak ada sepeser pun ‘uang jatuh’ yang terlihat. Napasnya terengah, naik turun, kerongkongan begitu kering. Maghrib kian menjelang.
***

“Allahu Akbar, Allahu Akbar….” 
Adzan pun berkumandang pertanda waktu berbuka telah masuk.

Bocah itu memutuskan menghampiri pedagang es tebu dan berkata dengan lugu.

“Pak, beli es tebunya satu. Tapi uang saya hanya Rp. 2.500. Kurang lima ratus lagi. Boleh Pak, saya ingin berbuka ? Haus”

“Ini nak, silahkan batalkan puasa” Bapak itu tersenyum. Binar matanya menandakan keikhlasan.

“slupp..slupp” (bunyi minum air gimana ya? Hehe ^_^ )

 Seketika, kenikmatan berbuka puasa dengan es tebu dirasakan sang bocah.

“Sungguh, nikmat sekali. Terimakasih pak, ini uangnya. Lima ratus lagi besok saya bayar” 

“Tidak usah nak. Ambil saja, semoga Allah memberkahi kita semua” 

Kemudian Sang Bapak tersenyum sembari memeluk bocah lugu penuh kejujuran itu.

=========================================================

Kett : 
Tarompa = Bahasa Minang (Sumbar) dari Sandal
Pabukoan = Bahasa Minang dari Takjil
Lamang tapai, cindua, gulai talua, aia aka = Jenis makanan dalam Bahasa Minang

*Sebatas cerpen bukan kisah nyata. Memberikan pesan tersirat bahwa berbagi itu indah :)

#SemangatMenulis #MempertajamMimpi

You Might Also Like

0 komentar: