Kini di Ruang Nyata

7:51 PM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

Sebut saja namanya Zhe. Dia adalah hawa yang dihadirkan Tuhan di bumi bagaikan malaikat. Jika malaikat bersayap. Zhe tidak bersayap. Dia malaikat takbersayap, kusebut itu namanya.

Tuhan mempertemukan kami dalam ruang sederhana. Pondok sebuah rumah makan . Tidak sengaja kami dipertemukan. Hanya dalam skenario Tuhan semuanya diatur. Apakah pertemuan yang tidak sengaja itu pertanda atas jodohku? Pertanda bahwa Zhe adalah tulang rusukku? Semoga saja.

Zhe, kau tahu apa yang aku rasakan saat pertama kali menatapmu di pintu itu? Berdebar jantung ini. Darahku mengalir lebih cepat. Tidak seperti biasanya. Getaran nadi berdetak lebih kuat. Aku gugup atau takut melihat auramu yang begitu indah?

Namaku, Ran. Seorang laki-laki dari Surga. Kusebut asal Surga karena aku adalah keturunan Adam. Bukankah Adam dulu menginap di Surga? Saat mereka memakan buah larangan. Tuhan turunkan mereka berdua ke muka bumi. Adam dan Hawa. Sedangkan  aku Ran, anak laki-laki dari Surga telah mengenal malaikat takbersayap. Dia indah. Zhe namanya.

Aku dipertemukan dengan Zhe saat jingga telah datang. Saat senja menyapa malam. Ketika matahari berganti dengan bulan.

Sore itu lewat pukul tiga. Aku duduk pada bangku paling ujung, dengan keluarga. Telah tiga puluh menit kududuk, menyantap sup iga asli Padang. Adikku juga lahap dengan nasi sotonya. Semua tampak gembira. Moment-moment hari raya Idul Fitri bersama keluarga. Peristiwa itu berawal.

Masih ingat olehku. Zhe masuk urutan nomor tiga. Setelah dua orang anggota keluarganya melangkahkan kaki terlebih dahulu ke dalam rumah makan.

 “Zzzrrr…”

Darahku mengalir takbiasanya. Ada rasa gugup saat melihat sosok perempuan itu. Gugup bercampur bangga dan bahagia. Pertama kalinya aku melihat Zhe secara langsung. Biasanya hanya berkomunikasi lewat kecanggihan teknologi.

Masih terngiang. Zhe memakai rok, berjilbab dan aku menyukai penampilannya itu. Sederhana bagiku dan aku memang senang dengan hal yang sederhana. Tidak berlebihan seperti kebanyakan wanita. Zhe bukan wanita, tapi dia adalah perempuan.

Zhe dan aku telah berada dalam satu ruangan. Bukan lagi ruang maya. Tapi ruang nyata. Dia di sudut kanan dan aku ujung kiri. Sebenarnya mataku ingin melirik Zhe sepanjang waktu. Namun apa daya, keterbatasan keberanian yang kumiliki membuatku malah menunduk. Lebih menjaga pandangan. Melihatnya di pintu sudah cukup bagiku. Waktu itu.

Keluargaku telah menghabiskan semua makanan pesanannya. Akupun telah ludes memakan Sup Iga bakar itu. Sebenarnya, kakiku bergetar ingin melangkah dan menemui Zhe. Lagi-lagi, aku takberani. Belum berani. Aku memilih menunduk. Keluar dari rumah makan itu. Meninggalkan Zhe hari itu. Hari di mana aku dan Zhe dipertemukan Tuhan untuk pertama kalinya.

*Bersambung…*

Cerita pertama: Kini di Ruang Nyata
Cerita kedua: Tentang Jarak

You Might Also Like

0 komentar: