Bumi Perempuan

7:20 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

Rintikan hujan menyelinap, jatuh diantara daun-daun hijau yang tertancap pada batang pohon di sekitar Fakultas Ilmu Budaya. Sesekali terlihat pohon-pohon itu digoyang-goyang angin. Rimbun daunnya jatuh satu per satu, menghempas ke bumi. Lalu terlelap bagai tak bersalah di atas tanah.

Angin memang tak berbentuk, tidak dapat dilihat dan abstrak. Namun mampu menggoyang batang pohon, menggugurkan dedaunan yang telah menguning dan tua. Pasti ini adalah kuasa Sang Pencipta. Angin yang bergerak, menghembus adalah perintah dari-Nya. Rasakanlah, angin yang tidak dapat dipegang, tak dapat dilihat, namun mampu merobohkan batang pohon yang kuat dengan akar tunggang yang tertancap hingga perut bumi. Luar biasa!

Hujan ini turun sejak siang, sehabis Zuhur telah tumpah ratusan titik air dari awan Cumulonimbus. Awan hitam yang mengandung mendung. Awan yang selalu bersahabat dengan bulan-bulan penghujan.

Di depan gedung C FIB, tampak banyak orang yang menantikan kehadiran hangat. Menunggu cerah, berharap hujan segeranya dengan reda. Berbagai kepentingan yang mendasari mereka. Ada yang ingin pulang ke kost, ingin membuat tugas, ingin rapat organisasi dan alasan lainnya. Kebanyakan mereka yang terperangkap di sini karena tak memiliki payung, apalagi mantel. Odong-odong sore begini juga tak ada lagi. Jangan harap angkot akan lewat.

Sedangkan aku berdiri di lantai dua gedung B. Antara gedung B dengan C hanya bersebelahan. Gedung B di bagian depan, sedangkan gedung C di belakangnya.

Mataku terfokus pada dua perempuan yang sedang hanyut dalam pembicaraan. Sesekali satu diantaranya melempar senyum. Dia memakai rok, baju longgar dengan jilbab yang menutupi dada. Sudah dipastikan dalam dan lebar. Senyum itu diberikannya pada perempuan satu lagi, memakai jeans selutut, baju tipis dan rambutnya terurai hingga bahu.

“Ga kedinginan Teh?” Sapa perempuan berjilbab, membuka pembicaraannya.

“Ga terlalu sih, lagian udah biasa juga,” Jawabnya.

Lagi senyum dilemparkannya, menyodorkan tangan dan menyebutkan nama, “Saya Aisyah. Teteh siapa?”

“Saya Anggun,” Jawabnya dengan senyum juga.

“Nama yang cocok, seanggun orangnya,” Aisyah berucap lembut.

Mereka saling mengenal, berawal dari hujan yang jatuh. Di depan gedung C persaudaraan itu dimulai.

***

Dekat broklin, di depan ATM Center adalah tempat akrab pada setiap mahasiswa untuk menuju fakultas masing-masing. Di sana tempatnya menunggu odong-odong atau angkot. Odong-odong adalah kendaraan terbuka, seperti minibus namun tak memiliki kaca. Kendaraan unik yang selalu setia menemani mahasiswa kampus ini menuju fakultas. Di sini keduanya bertemu kembali.

“Eh Aisyah, mau kemana?” Anggun menyapa.

“Ke kampus Teh. Teteh mau ke mana? Ke kampus juga? Barengan yuk”

Telah lewat tiga puluh menit angkot tak kunjung datang. Odong-odong tidak juga memperlihatkan diri. Mungkin, para supir sedang istirahat siang. Makan atau sedang Shalat. Biasanya, sehabis Zuhur angkot memang jarang terlihat. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Jarak FIB dari Halte angkot tak jauh. Sekitar tujuh menit berjalan kaki, langsung tiba di FIB. Dalam perjalanan mereka berdua terus bercakap. Berbicara dan telah mulai akrab.

Hingga suatu hari karena telah begitu akrab. Kadang Anggun bermain ke kosan Aisyah. Lain waktu Aisyah yang mengunjungi Anggun. Telah seperti saudara sendiri. Saat Anggun punya masalah, baik itu akademik maupun masalah bathin. Dia sering mencurahkan pada Aisyah. Begitupun Aisyah, sering juga bercerita tentang kehidupannya. Tentang adik-adik dan orangtuanya di kampung.

Aisyah bukan orang Bandung juga bukan pula orang Jatinangor yang dekat dengan kampus ini. Dia di sini merantau. Hidup sendiri, memberanikan diri melanjutkan pendidikan di negeri orang. Perempuan ini berasal dari Bogor. Daerah yang dikenal sebagai kota hujan itu.
Suatu waktu di kost Aisyah, Anggun datang pagi-pagi buta. Bercerita tentang apa yang dirasakannya. Akhir-akhir ini banyak masalah yang datang bertubi-tubi pada Anggun. Aisyah, selaku saudaranya, sahabat yang telah mulai menjalin keakraban dengannya selalu menasihati. Memberikan secercah semangat pada Anggun. Selalu Aisyah berusaha memberikan energi baru, energi positif untuk membangkitkan Anggun dari kelemahan yang dialaminya.

“Anggun? Ada masalah apa sekarang?” Aisyah menatap mata Anggun dalam-dalam.

“Banyak, sungguh berat Ai. Rasanya aku tak lagi dapat memikulnya. Otakku serasa pecah dibuatnya”

Aisyah tersenyum. Memegang jemari Anggun dengan keduabelah tangannya. Menatap mata. Dilihatnya Anggun berkerut, seperti sedih yang memuncak sedang dialaminya. Dengan lemah lembut dan perlahan Aisyah mulai merangkai kata, memberikan energi baru pada sahabatnya itu.

“Anggun, Ai tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Ai paham, berat sekali beban yang kamu pikul. Namun Nggun, setiap masalah yang sedang dihadapi bukti bahwa Tuhan sedang menguji. Berhasil kita menghadapi ujian itu, naiklah derajat kita,” Aisyah melempar senyum. Menghapus air mata yang jatuh di pipi Anggun.

Anggun tetap membisu. Diam. Tak berkata apapun selain matanya yang bicara. Kembali Aisyah berucap. Memegang pipi Anggun yang telah basah dan menegakkan kepalanya.

“Ai boleh bicara Nggun?” Tanya Aisyah. Mereka sudah sangat akrab, dalam keseharian kini saling menyebut nama saja.
Anggun, perempuan yang dikenalnya di depan FIB dulu, saat hujan mengepung mereka mengangguk. Dua kali mengangguk isyarat bahwa Aisyah diperbolehkannya bicara.

“Nggun, Tuhan tak akan tega memberi beban pada hamba-Nya yang lemah. Beban berat dan masalah besar hanya akan diberikan Tuhan pada manusia-manusia yang kuat. Jika saat ini Anggun merasakan bahwa masalah ini besar berarti Anggun adalah orang yang kuat. Dipilih Tuhan untuk naik derajat jika Anggun sanggup menyelesaikannya. Semua sudah dijelaskan Al-Quran kok. Al-Baqarah ayat 286,” Ucap Aisyah dengan lembut pada Anggun. Menyemangati dan mencoba menguatkan Anggun.

Tampaknya perempuan yang pipinya basah oleh bulir bening itu paham. Mengangguk, mengerti apa yang dikatakan sahabatnya. Aisyah.

Tak ada pertanda, Anggun memeluk Aisyah. Menyandarkan kepalanya di bahu Aisyah. Dan Aisyah mengusap-usap rambut Anggun yang terurai. Terus memberikan kalimat-kalimat nasihat yang diharapnya mampu membangkitkan Anggun.

Saat Anggun mulai tenang. Napasnya telah teratur. Air matanya tak lagi jatuh. Aisyah mencoba meraba meja di sebelah kanannya. Mengambil suatu kain dan membalutkannya di kepala Anggun. Jilbab! Harapnya tentu Anggun mulai memakai, mulai menutup dan memulai untuk memperbaiki. Diri, hati dan semuanya.

Sedikit tinta dari Robi Afrizan Saputra
17 November 2014

Bersambung ke cerpen "Perempuan Bumi, Bernyali". Silahkan baca di sini => Perempuan Bumi, Bernyali

You Might Also Like

0 komentar: