Perempuan Bumi, Bernyali

7:22 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

 Sambungan cerpen "Bumi Perempuan". Bagi yang belum membaca silahkan baca di sini => Bumi Perempuan

Daun-daun itu menari. Membuka badan. Tersenyum lebar. Namun akhirnya tersambar. Jatuh perlahan menuju bumi. Di bawahnya, tanah basah telah menanti. Genangan air siap membasuh daun-daun yang penuh dengan debu kemarau dulu. Seranting batangpun tanggal dari tumpuan utamanya. Membawa sekelompok serangga jatuh ke tanah.

“Braak…” Seketika ranting itu mendekap tanah. Memeluk bumi. Mengejutkan semut-semut yang sedang berjalan perlahan. Bahkan cacing di dalam tanahpun ikut kaget. Menggeletak. Ini  pasti ulah angin. Dia cabut ranting itu dari induknya. Batang pohon utama.

Waktu Ashar telah masuk, sekelompok perempuan berjilbab lebar dan dalam tampak keluar dari mushola. Sepertinya telah selesai mereka menunaikan perintah Tuhan. Kewajiban setiap ummat Islam. Tidak lain adalah shalat. Dan hari ini adalah Jum’at. Esok adalah Sabtu, berarti libur kuliah.

Senja ini hanya mendung. Gerimis belum memperlihatkan bentuknya. Hanya angin yang lalu-lalang di sekitar kampus. Beberapa perempuan tampak mendekapkan bukunya ke dada. Mungkin karena kedinginan, angin berhembus gemulai namun menusuk hingga tulang-tulang. Mereka yang mendekapkan buku ke dada adalah tanpa penutup kepala. Rambutnya terurai. Namun diantara itu ada seorang yang rambutnya ditutupi sehelai kain berwarna hijau. Memakai jilbab walau masih alakadarnya. Mungkin dia baru memakai kerudung. Tidak lain adalah Anggun.

Di bundaran, dekat lapangan bola, di depan fisip dan fkg. Ada Aisyah sendirian. Dia berjalan ke arah bawah. Sepertinya mau pulang ke kos. Sedangkan Anggun berjalan di belakang dengan segerombolan perempuan. Dia berjalan lebih cepat. Mencoba menghampiri Aisyah.

“Aisyah, baru pulang kuliah?” Sapa Anggun menempuk pundak Aisyah.

Aisyah kaget, tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang, “Eh Anggun, udah kelar sih dari jam setengah tiga tadi. Tapi ke mushola dulu”

“Mau ke mana Ai?”

“Pulang ke kosan Nggun. Kamu mau ke mana?”

“Belum tahu ke mana Ai. Di kosan juga suntuk”

“Besok libur kan Nggun? Nginap di kosan aku aja? Gimana? Aku punya stok makanan lumayan banyak lho. Hehehe,” Bujuk Aisyah padanya.

“Ntar ganggu kamu. Tugasmu banyak juga kan Ai?”

“Ngga ko. Malam ini aku mau istirahat. Refreshing. Mau nyegerin otak dulu. Yuk nginap di kosan aku aja?” Sekali lagi Aisyah mengajak.

Anggun berpikir. Tak terlalu lama, lalu dia mengangguk. Melempar senyum. Menyetujui menginap di kosan Aisyah.

Keduanya kini telah memakai jilbab. Satu lebar dan dalam. Dan satu lagi masih biasa. Namun ini adalah awal yang baik bagi Anggun. Semoga saja. Mudah-mudahan Anggun tidak merasa berat dan nyaman. Aisyah berharap.

***

Jingga yang memerah di ufuk barat telah menghilang diam-diam. Mentari juga telah membenamkan diri di tempat persembunyiannya. Jangkrik telah mulai bersuara. Kelelawar bertebaran terbang di langit sana.

Jam setengah delapan malam. Mereka berdua tentu telah selesai Shalat Isya. Masih di atas sajadah. Aisyah memakai mukenah. Anggun juga. Keduanya terlihat cantik dibalut pakaian putih yang suci itu. Parasnya memancarkan cahaya. Air wudhu membuat wajah mereka berdua semakin berbinar-binar.

Sekitar sepuluh menit suasana diam. Diantara mereka sibuk ‘bercerita’ pada Sang Pencipta. Keduanya menunduk. Anggun lebih cepat menegakkan kepala. Mungkin telah selesai berdo’a. Sedangkan Aisyah masih asik menggerak-gerakkan bibir. Mengucap kalimat-kalimat Allah. Dia hanyut dalam kedamaian hati yang tiada tara.

Kini tangan Aisyah sejajar dengan dada. Melantunkan kalimat-kalimat harap pada Allah. Dia berdo’a. Meminta semua urusan dimudahkan-Nya. Semua
yang berat diringankan. Semua yang susah digampangkan. Do’anya penuh khidmat.

Do’a adalah sarana manusia berkomunikasi dengan Tuhan. Setiap yang diminta, Tuhan pasti akan kabulkan. Cepat atau lambat, do’a yang terucap dari lisan manusia yang selalu menghamba pasti akan menjadi nyata. Bukankah Tuhan telah jelaskan dalam Al-Baqarah ayat 186?

Aisyah percaya dengan firman Tuhan itu. Do’anya lama, tidak tergesa-gesa. Saat meminta bukan hanya bibirnya yang bicara. Mata Aisyah pun juga ikut serta. Dalam keheningan malam, penuh kusyuk dia meminta.

Sedangkan Anggun duduk di kursi dekat meja belajar. Kamar Aisyah tampak tersusun rapi. Kebanyakan perempuan memang tak suka berantakan. Namun masih ada juga perempuan yang tak senang dengan kerapian. Membiarkan hidupnya penuh dengan keberantakan. Kamar berantakan. Rambut terurai berantakan. Semuanya berantakan. Masih ada. Kamu salah satunya? Semoga saja tidak!

Keduabelah tangan Aisyah mengusap wajah. Menutup do’anya dengan aamiin. Bergegas melipat sajadah. Meletakkan di dalam lemari. Kemudian dia beranjak duduk di sebelah Anggun. Pas sekali, dua kursi ada di kamarnya. Satu dipakai Anggun, satu lagi dipakai perempuan asal kota hujan itu.

“Kenapa bermenung Nggun?” Aisyah mengawali pembicaraan.

“Ai, satu masalah selesai. Datang lagi masalah baru. Bahkan lebih berat. Apakah aku kuat Ai? Dengan semua ini?” Tanyanya dengan raut tak gembira.

“Kamu pasti kuat Nggun. Kan sudah aku bilang waktu dulu. Tuhan berikan masalah berat untuk hamba-Nya yang kuat. Dia memberikan masalah kepada orang yang tentu bisa menyelesaikannya. Tidak mungkin masalah berat, Tuhan berikan pada manusia yang lemah” Senyum Aisyah terjatuh di wajah Anggun.

“Kamu tahu masalah baruku Ai?”

“Bicaralah, ceritakan semuanya padaku Nggun. Sebisanya aku membantu. Bukankah sesama muslim itu bersaudara? Tentu aku akan senang membantu saudaraku sendiri” Lagi dia tersenyum. Tak ada beban dari wajah Aisyah.

“Ai, sudah beberapa hari ini aku memakai jilbab. Gerah sekali. Panas. Selalu membuatku berkeringat. Kadang rambutku basah. Airnya menyerap ke jilbab itu juga. Mungkin tak cocok padaku. Panas dan sumpek dibuatnya” Anggun mengeluh.

Aisyah merespon dengan senyuman. Semenit kemudian dia berbicara. Menatap mata saudaranya itu.

“Memakai jilbab membuatmu panas Nggun? Bukankah Neraka lebih panas dari semua ini? Memakai jilbab membuatmu merasa sumpek Nggun? Bukankah Neraka lebih kejam dari ini? Memakai jilbab membuatmu gerah Nggun? Semoga ujian dari awal proses kebaikan ini membuatmu tidak menyerah Nggun”

Dinding kamar tersenyum mendengar kalimat yang baru Aisyah ucapkan.

Anggun seketika diam. Menunduk. Matanya menjatuhkan kristal bening. Menangis.

Sedikit tinta dari Robi Afrizan Saputra.
18 November 2014

You Might Also Like

0 komentar: