Anjing, Orang-orang Putih, dan Gedung Tinggi

10:02 PM Robi Afrizan Saputra 0 Comments

Semenjak sawah-sawah di perkampungan kami telah ditimbun dengan bertruk-truk tanah. Negeri ini semakin asing. Pohon-pohon yang dulu tegak dengan gagah kini telah berubah menjadi kayu-kayu yang dijual mahal. Padi-padi yang dulu banyak, kini telah menyusut. Beras-beras pun menjadi mahal harganya. Air sungai tak lagi jernih. Telah menguning dan baunya begitu menyengat.

Mereka datang dengan tujuan yang tak bisa ditebak. Dulu sempat menemui Kepala Desa, katanya ingin menyejahterakan rakyat di sini. Tapi tiba-tiba mereka membunuh warga kampung secara perlahan. Ia membunuh bukan dengan senjata tajam, melainkan dengan sistem-sistem yang mereka rancang sedemikian rupa.

Dulu kampung kami hanya kumpulan dari rumah-rumah yang dibuat dari kayu. Kini dengan perlahan berubah. Kayu-kayu telah diganti dengan semen. Katanya biar lebih kokoh dan tahan lama.

Di tengah-tengah perkampungan kami, kini telah berdiri bangunan yang menjulang tinggi. Suatu hari saya iseng menghitung. Tingkatannya berjumlah 20 lantai. Satu lantai terdiri dari banyak ruangan. Jika dilihat dari lantai-lantai atas gedung itu, rumah-rumah di perkampungan kami hanya bak gubuk-gubuk kumuh, gudang-gudang lapuk, atau bangunan-bangunan yang tak terurus lagi.

Semenjak gedung tinggi itu selesai dibangun. Penghuni-penghuni baru berdatangan untuk mengisi kamar-kamar yang ada. Mereka datang bukan dengan becak, melainkan datang dengan wajah yang mendongak. Suaminya, istrinya, dan anak-anaknya putih-putih. Matanya sipit. Hidungnya ada yang mancung dan tak sedikit juga yang pesek. Anak-anak perempuan mereka memakai celana yang mencetak kedua belah pahanya. Tak sampai selutut. Jika dihitung dengan penggaris, kira-kira panjang celana mereka hanya sekitar 35 cm. Anak laki-laki mereka banyak yang memakai kacamata. Sering kami lihat, ke mana pun pergi ia selalu menatap barang mewah di tangannya itu.

Gedung tinggi yang kini tumbuh di perkampungan kami membuat anjing-anjing sering bermain ke sekitarnya. Entah apa tujuan si anjing kami pun tidak tahu. Yang kami tahu anjing-anjing itu sering menggogong panjang. Padahal tidak ada kucing atau mangsa di dekatnya. Biasanya, anjing itu tiba pagi-pagi hari, kalau tidak malam-malam hari.

Hal itu yang membuat warga kampung bertanya-tanya. Kenapa anjing-anjing itu datang ke dekat gedung tinggi itu pagi-pagi hari, kalau tidak malam-malam hari?

Suatu pagi jum’at, saya lewat di depan gedung tinggi itu. Seekor anjing mati tanpa darah. Saya buru-buru kembali ke perkampungan. Segera ke rumah Kepala Desa. Saya ceritakan hal tersebut pada beliau. Kepala Desa malah diam dengan seribu bahasa. Ia hanya mengangguk-angguk. Saya kembali menceritakan hal tersebut pada beliau. Berharap ada kata yang terlontar dari mulutnya.
Seketika ia berucap, “Anjing itu mati karena takdirnya!”.

Lalu ia kembali diam. Tak lama ia berdiri dari ruang tamu tempat kami duduk. Ia melangkah dan masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dengan sedikit menghempaskan. Saya dengar ia mengunci pintunya.

Tak ada lagi siapapun di ruang tamu itu. Hanya saya sendirian. Saya bangkit dan berjalan ke arah pintu rumah Kepala Desa. Keluar. Menutupnya dengan perlahan. Lalu saya kunci ia dari luar.

***

Semakin hari semakin aneh saja perkampungan kami.

Suatu malam minggu, warga kampung dikejutkan dengan seorang wanita tua yang melompat dari lantai 13 gedung tinggi itu. Kami terkejut dan bergegas ke sana. Tiba di sana, warga kampung, satpam, dan polisi pun ternganga. Heran. Wanita tua itu mati tanpa darah. Persis sama dengan anjing yang mati dua hari lalu.

Ada tanda tanya besar di perkampungan kami. Semakin hari, semakin aneh.

Keluarga dari wanita tua itu –anak-anaknya– memutuskan untuk tidak mengubur jasad beliau. Mereka memutuskan untuk menyimpan jasad wanita tua itu di dalam sebuah lemari usang di sudut lantai 13 gedung tinggi tempat mereka tinggal.

Telah lewat seminggu. Lemari usang itu dikerumuni oleh semut-semut merah setiap malamnya.
Petugas kebersihan gedung tinggi itu tak berani mengusik sedikit pun lemari usang tersebut. Entah apa motif ketakutan mereka.

Tepat 13 belas hari setelah wanita tua itu meninggal. Anjing-anjing kembali datang mengerumi gedung tinggi itu. Anjing tersebut semakin banyak. Seekor di antaranya yang berwarna hitam pekat berjalan menuju pintu utama gedung tinggi itu. Satpam pun panik mengusir. Namun percuma, anjing hitam itu berlari dan melewati tangga-tangganya hingga sampai ke lantai tiga belas.


Setiba di sana, anjing itu mendorong pintu lemari. Terbuka. Satpam yang mengejar anjing hitam itu terkejut. Wanita tua yang meninggal tanpa darah beberapa waktu lalu berjalan ke luar lemari. Ia hidup kembali.
***
Robi Afrizan Saputra
8 September 2015

You Might Also Like

0 komentar: