Kompetisi dan Pelajarannya

7:19 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments


Ibarat sebuah perjalanan panjang, yang paling penting dalam sebuah kompetisi adalah proses mencapai tujuannya. Hasil akhir terletak bukan pada ranah logika manusia. Semua keputusan terbaik lahir dari tangan Tuhan. Sederhananya, manusia hanya mampu untuk berikhtiar dan melangitkan doa-doa. Sedangkan Tuhan adalah penentu segalanya.

Kompetisi bukanlah ajang untuk menjadi menang. Melainkan ajang untuk mencari pengalaman. 

Jika menang yang menjadi tujuan: jika mendapatkan kekalahan, maka yang akan terjadi adalah patah dan kecewa. Jadikanlah kompetisi sebagai rumah untuk mencari pengalaman. Bagaimanapun hasil yang didapat, akan selalu ada hikmah dan pelajaran yang mampu untuk dibawa pulang. 

Bagi para pemenang, jadilah sang jawara yang santun. Mampu berjiwa ksatria. Punya hati yang lembut untuk saling menghargai. Bahagia itu wajar. Namun, janganlah euforia dengan berlebihan. Sebab, kemenangan pun bukanlah sebuah hasil akhir. Andai saja ada noda merasa lebih hebat dan lebih unggul, maka gelar kemenangan yang didapatkan akanlah padam dengan cepat. Sebab, menang yang sejati terletak pada segumpal hati. Pemenang tidaklah sombong walaupun hanya setitik saja. Ia mampu untuk menghargai. Menyadari bahwa hakikat menang adalah sebuah ujian. Bagaimana agar mampu untuk tetap bertumbuh dan menjadi lebih baik selepas digelar pengumuman kompetisi. 

Bagi yang tidak mendapatkan kemenangan. Ini bukanlah sebuah akhir. Melainkan awal yang baru untuk kembali bertumbuh. Janganlah pernah untuk saling menyalahi. Bagaimanapun itu keadaannya. Milikilah jiwa yang lapang. Menerima bahwa masih ada celah yang harus ditutup atas perjuangan yang telah dilakukan. Mengevaluasi adalah langkah paling bijak. Mencari bekal agar mampu menciptakan peluang baru di hari berikutnya.

Tetaplah untuk bertumbuh. Pelan-pelan dan dengan perlahan. Untuk menjadi kupu-kupu memang penuh dengan perjuangan. Nikmati saja langkah demi langkah itu. Lalui perjalananmu dengan sungguh-sungguh. 

Dan ingatlah, ketika sudah berusaha, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal, setidaknya sudah memberikan yang terbaik

Masih sangat banyak nikmat yang harus (kembali) untuk disyukuri.


Makassar, 27 Agustus 2017

IG: @robiafrizan1

You Might Also Like

0 komentar: