Sabir

10:45 AM Robi Afrizan Saputra 0 Comments


Sudah tak sabar lagi aku ingin keluar dari rahim ibu. Semakin hari ruangan ini semakin sumpek. Sudut sikuku sesekali membentur pada dinding-dinding itu. Beberapa kali ibu mengelus dan aku benar-benar merasakan. Betapa hangatnya belaian tangan ibu. Walau ia hanya membelai perutnya yang kian membuncit, tentu bukan buncit karena memakan uang rakyat, aku tetap merasakan begitu nikmatnya sebuah belaian dalam dimensi lain.
Aku sudah tak sabar melihat siapa sebenarnya ibuku, siapa ayahku, dan siapa aku.

***

Di bibir laut, kayu-kayu besi1 berdiri kokoh. Tertancap dalam hingga inti bumi. Walau beberapa sudah ada yang dimakan ombak. Keropos bak kosen yang dimakan rayap. Namun tonggak-tonggak itu masih terlihat kuat. Seperti orang-orang Bajo yang tegar berlayar di tengah kejamnya samudra biru.

“Wa Ambe, besok sa mo2 melaut. Tepat setelah matahari tergelincir.”

Sabir, lelaki Bajo, ditakdirkan Tuhan untuk mempersunting wanita Buton. Wa Ambe namanya. Tepat setelah Wa Ambe melaksanakan tradisi Pasuo3, ia datang dan menyatakan maksud hatinya. Tak butuh waktu yang lama, mereka segera melangsungkan pernikahan. Wa Ambe diboyong oleh Sabir ke Desa Leppe, sebuah desa di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Tempat di mana Sabir hidup dan melaut. Sudah beberapa bulan mereka di sana. Memulai hidup baru untuk membangun rumah tangga.

“Tapi, kandungan ini sudah masuk bulan kesembilan,” jawab Wa Ambe dengan nada yang sedikit terisak.

“Kita tak punya biaya untuk persalinan, Wa. Sa harus melaut. Semoga saja, nanti malam ikan jinak dan banyak.”

“Tapi, sa khawatir bagaimana kalau nanti malam akan kontraksi.”

“Jangan terlalu khawatir, Wa. Besok siang sa kembali. Doakan saja semoga tangkapan nanti malam bisa lebih.”

Dengan berat hati, Wa Ambe mengizinkan suaminya melaut. Walau hatinya remuk. Pikirannya tak menentu. Bagaimana kalau nanti malam kontraksi? Bagaimana kalau nanti malam ketuban ini pecah? Dan pertanyaan bagaimana lainnya yang terus menghantui pikirannya. Ia benar-benar khawatir. Bukan hanya khawatir bagaimana kalau ia melahirkan nanti malam saja, tetapi ia lebih khawatir bagaimana kalau suaminya tidak pulang esok hari? Semuanya bisa saja terjadi. Ganasnya samudera terkadang tak bisa dilawan oleh siapapun. Termasuk Sabir dan orang-orang Bajo lainnya. Walau konon katanya orang Bajo adalah pelaut ulung, namun tetap masih ada juga yang pernah hilang di lautan.

“Bismillahirrahmanirrahim.
Nabi Iler Nabi Ler Nabi Iser.
Mbu Janggo Mbu Tambirah Mbu Duga.”4

Beberapa kali Sabir mengucap pelan mantra itu. Sebuah mantra agar para nelayan Bajo bisa menghadang ganasnya badai samudra. Ia tambah khawatir karena langit makin mendung5 saja. Di ujung laut sana gumpalan cumulonimbus6 semakin jelas dan mendekat. Bibir pantai berdentum keras. Lidah ombak menggulung lebih ganas. Namun, niatnya sudah bulat. Sabir akan tetap melaut demi istrinya yang tengah hamil tua.  Untuk biaya persalinan anak pertamanya yang paling ditunggu-tunggu.

“Semoga saja ikan jinak dan banyak, supaya sa bisa bawa banyak tangkapan,” ucapnya pelan sembari pamit pada Wa Ambe.

***

Sudah enam hari semenjak kepergiannya ke laut, Sabir belum juga pulang. Wa Ambe dengan janin dikandungnya tetap menantikan bunyi geretak langkah suaminya di depan rumah. Harap-harap cemas ia. Sebab sebelum berangkat cuaca memang tak bersahabat. Ditambah kenekadan Sabir untuk tetap melaut. Semakin khawatir ia, sebab Sabir berangkat hanya sendiri dengan katinting7. Kalau nasib buruk yang tiba, tak ada yang bisa menolongnya, selain Tuhan dan kebaikan semesta.

“Beginilah nasib menjadi istri nelayan. Sebelum suami pulang, hati terus was-was. Pikiran khawatir tak menentu. Juga tak ada jaminan tangkapan akan dapat. Kalau-kalau tak bernasib mujur. Hanya utang yang bisa diperpanjang pada warung dan tetangga sebelah. Belum lagi janin ini yang sebentar lagi akan lahir. Jangan sampai ia lahir tak diazankan ama8-nya” ucap sendu Wa Ambe di kehamilannya kesembilan bulan.   

“Wa, sudah pulangkah suamimu?” teriak Nengsih, orang Jawa yang sudah lama tinggal di Desa Leppe, dari rumah panggungnya. Memang di Desa Leppe ini, orang-orang berkomunikasi lebih sering berteriak dari rumah ke rumah. Mungkin saja karena rumah mereka yang dekat-dekat. Di Desa Leppe ini dihuni beragam suku. Bajo, Tolaki, Muna, dan termasuk Nengsih, orang Jawa yang tiba di Leppe karena program transmigrasi besar-besaran saat pemerintahan di zaman Soeharto dulu.

“Belum juga, Neng,” balas Wa Ambe dengan teriakan yang terputus.

“Kalau seminggu belum juga pulang. Datanglah ke Munafar, dukun kampung yang biasa mencari orang hilang di lautan, Wa.”

Memang tepat besok hari, sudah seminggu Sabir tidak pulang. Wa Ambe terus menahan rindu. Ia mesti datang ke rumah Munafar. Meminta tolong agar suaminya bisa pulang.

Orang-orang Bajo yang melaut jika tak lagi pulang. Keluarga yang ditinggalkan biasanya akan ke dukun sebagai perantara agar lautan mengembalikan para nelayan yang ditelan. Dukun kampung biasanya akan membuang sesajian di lautan.  Sirih, pinang, telur, dan bahkan rokok. Mereka bilang sebagai bentuk sesembahan kepada lautan. Beberapa hari setelah membuang sesajian ke lautan, biasanya yang hilang akan terapung dengan sendirinya. Namun lain halnya dengan Sabir. Sejak Wa Ambe ke dukun, belum juga dapat kabar ada mayat yang terapung.

Lalu di mana Sabir saat ini?

***

Wa Ambe mual. Ia muntah-muntah. Pinggulnya nyeri. Ada rasa sakit yang tak biasa dipinggangnya. Ketubannya pecah. Ia mengerang kesakitan. Nengsih dari rumahnya mendengar sayup-sayup rintihan sakit tetangganya itu. Tanpa menunggu lama, Nengsih berlari menuju rumah Wa Ambe.

Ditemukannya Wa Ambe, ibu muda yang tengah hamil tua itu sedang berjuang sendirian. Lendir bercampur darah dilihatnya berceceran di lantai kayu yang sudah dimakan usia itu.

Tak lama ia datang, terdengar suara bayi mengeak-eak. Wa Ambe ditemukannya tergeletak lemas di sudut rumah kayu itu.

Sabir tetap tak ada dan tak tahu di mana keberadaannya.

***

Orang-orang Leppe mengharu-biru menyambut kelahiran anak pertama Sabir. Sebab akan tumbuh kembali pelaut ulung dari tanah Leppe. Pengganti ayahnya sendiri yang sudah lebih dari sepuluh hari belum juga kembali.  Wa Ambe, di tengah suka-cita itu tetap menyimpan palung duka yang mendalam. Suaminya belum juga pulang. Sabir masih menjadi misteri. Dukun-dukun kampung tak sanggup lagi mencari walau sudah dengan sesajian yang menjadi-jadi.

Kini Wa Ambe hanya bisa pasrah dan menanti kebaikan alam. Kalau memang  Tuhan menakdirkan untuk hidup bersama hingga tua, Sabir pasti akan kembali. Kalau tidak, bagaimanapun Wa Ambe harus tetap membesarkan anak lelakinya itu. Semoga saja jika besar nanti ia tumbuh dengan gagah dan berani. Seperti Sabir, suaminya yang belum juga pulang hingga saat ini.

Ina9, ama  di mana? Kenapa tak pernah pulang ke rumah? Atau ama adalah laki-laki tak bertanggung-jawab yang meninggalkan ina begitu saja?” Bertubi-tubi pertanyaan Amrin yang kian hari usianya semakin bertambah.

Ina, ibunya hanya bisa menahan pilu, “Ama masih di laut,” ucapnya tertahan.

“Kenapa ama sangat lama di laut. Sudah tujuh belas tahun usia sa, ama belum juga pulang.”

Pertanyaan ini begitu menohok relung hati Wa Ambe. Jika diceritakan panjang lebar pun, hanya kesedihan yang akan terurai. Belum saatnya untuk menceritakan pada Amrin, begitu kata Wa Ambe. Nanti, jika memang ia sudah lebih dewasa, semuanya pasti akan terbuka.

“Sepertinya ada sesuatu yang ina disembunyikan,” ucap Amrin pada ibunya.

Lagi-lagi Wa Ambe memilih membisu. Menutup rapat-rapat bibirnya yang pecah-pecah. Untuk saat ini biarkan air matanya yang berbicara. Kalaupun dijawab, Wa Ambe juga tak tahu di mana keberadaan Sabir. Dari dulu hingga detik ini. Dari saat Amrin baru lahir hingga tumbuh besar seperti saat ini. Wa Ambe masih tetap setia untuk terus menahan rindu. Rindunya semakin hari semakin subur. Namun belum juga bisa mekar dan berbunga sebab Sabir belum juga bertemu.

***

Konon kabarnya di Pulau Buton ada sebuah liang gaib yang bisa mendengarkan dan melihat langsung orang yang sedang azan di Tanah Suci. Liang itu juga bisa melihat masa lalu. Bahkan melihat orang-orang yang telah meninggal dunia sekalipun. Letaknya tepat di dekat mihrab Masjid Agung Keraton.

Mendengar informasi itu, Amrin, anak laki-laki semata wayang Wa Ambe, ingin pulang ke kampung ibunya. Tanah Buton. Ia ingin pergi ke liang gaib yang katanya bisa menjadi perantara untuk melihat orang-orang yang sudah meninggal dunia. Tentu termasuk ayahnya yang sampai saat ini belum juga pulang. Ia penasaran siapa ayahnya. Sama halnya seperti penasarannya ketika masih di dalam kandungan ibunya dulu.

Ina, sa mo ke Buton melihat ama!”

Wa Ambe kebingungan. Siapa yang bilang ama-nya ada di Buton. Sampai saat ini ia pun tidak tahu di mana keberadaan suaminya sendiri.

Ama-mu tidak ada di Buton, Nak!”

Sa tetap mo ke Buton melihat ama melalui liang gaib yang diceritakan orang-orang.”

Barulah ingat Wa Ambe kalau di kampungnya ada liang yang bisa melihat orang-orang yang telah meninggal dunia. Termasuk melihat suaminya sendiri.  Yang saat ini masih menjadi misteri. Dukun-dukun tak ada yang bisa mencari. Mungkin datang ke liang gaib dekat mihrab Masjid Agung Keraton itu bisa menjadi sebuah solusi.

Rindu hati Wa Ambe semakin terpupuk dengan subur. Rasa penasaran Amrin semakin membuncah. Mereka berdua pun memutuskan berangkat menuju Buton. Selain ingin ke liang gaib itu, Wa Ambe juga sudah belasan tahun tidak pulang ke kampung halamannya semenjak dibawa pindah oleh Sabir ke Desa Leppe di Konawe.

Pada hari yang telah disepakati, mereka pun berangkat menuju Buton bermaksud untuk membunuh rindu hingga ke akar-akarnya. Sebab sudah belasan tahun, keduanya tak pernah lagi melihat Sabir. Sesosok yang entah di mana.

***

Tepat setelah Salat Jumat, mihrab Masjid Agung Keraton dikerumuni orang-orang. Termasuk Wa Ambe dan Amrin. Orang-orang saling sikut ingin paling dahulu melihat liang gaib itu. Sama-sama ingin menuntaskan hajat masing-masing. Ada yang benar-benar bisa melihat keinginannya itu dan tak sedikit yang merasa kecewa dan dibohongi.

Lalu, tibalah waktunya giliran ibu dan anaknya itu untuk mendekati liang gaib di dekat mihrab masjid.

Betapa kagetnya mereka melihat rentetan kisah masa lalu yang terjadi. Wa Ambe pingsan setelah melihat melalui liang gaib itu suaminya hilang karena orang asing.  Sabir hilang di laut karena bertengkar dengan orang-orang di kapal asing yang menangkap ikan di Laut Kendari. Kapal-kapal asing itu menangkap ikan dengan menggunakan bom. Sabir tidak terima. Sebab dengan cara itu bisa mematikan ekosistem lautan, menghancurkan karang-karang, dan membunuh seluruh biota lautan. Sabir memberontak. Namun apa daya. Ia hanya seorang diri. Badan katinting-nya ditembak. Bocor. Tepat paha kanannya juga ditusuk peluru. Sabir tenggelam tak berdaya bersama katinting-nya yang telah tua.

“Dan inilah yang sebenarnya lelaki sejati. Rela bertaruh nyawa demi menyelamatkan sumber kehidupan kami. Jasad ama boleh tiada, namun jiwanya tetap ada dan akan terus membara,” ucap Amrin tepat di mulut liang gaib dekat mihrab masjid. Karena liang ini ia bisa melihat siapa ayahnya yang sebenarnya, sosok pelaut ulung yang terus hidup di dalam jiwanya.
Liang ini benar-benar gaib dan ajaib, ucapnya pelan, membungkus rindu.

Catatan:
1Kayu besi : Kayu yang digunakan untuk tonggak-tonggak rumah masyarakat Bajo di Desa  Leppe.
2Sa mo : Saya mau.
3Pasuo : Pesta adat masyarakat Buton yang ditujukan pada kaum wanita yang memasuki usia remaja sekaligus menyiapkan diri untuk berumah tangga.
4Bismillahirrahmanirrahim.
Nabi Iler Nabi Ler Nabi Iser.
Mbu Janggo Mbu Tambirah Mbu Duga :
Mantra masyarakat Bajo untuk menghadang badai di lautan. Mantra yang berfungsi untuk menghadapi badai laut ini memberikan gambaran bahwa larik kedua dan ketiga adalah sosok yang diyakini oleh masyarakat suku Bajo memiliki kekuasaan di laut. Untuk itu, ketika terjadi badai, maka merekalah yang menjadi tempat untuk memohon pertolongan. Merekalah yang menjadi mediator untuk menyampaikan permohonan kepada pemilik kekuasaan yang paling tinggi. (Referensi dari Tesis atas nama Uniawati dari Universitas Diponegoro dengan judul Mantra Melaut Suku Bajo: Interpretasi Semiok Riffaterre)
5Langit makin mendung     : Meminjam judul cerpen Kipandjikusmin.
6Cumulonimbus    : Awan yang mengandung uap hujan.
7Katinting : Perahu kecil yang biasa digunakan nelayan untuk melaut.
8Ama : Panggilan untuk bapak.
9Ina : Panggilan untuk ibu.

====
Cerpen ini ditulis di Kendari pada 13 Oktober 2016.
Ditulis untuk perlombaan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas XIII) 2016.
Penulis mewakili Provinsi Jawa Barat


You Might Also Like

0 komentar: