Menelepon Ibu

10:57 PM Robi Afrizan Saputra 0 Comments


Beberapa kali aku menelepon ibu. Aku memberikan kode bagaimana kalau seandainya nanti teman hidupku selamanya adalah perempuan yang jauh dari tempat aku dilahirkan. Perempuan yang untuk menghalalinya butuh perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar. Singkatnya, ia adalah perempuan jawa tempat di mana aku berpijak dan menuntut ilmu di sana. Betapa kagetnya aku, ibu malah bahagia. Ibu menanyakan kapan hal itu akan benar-benar terlaksana? Sayangnya, aku masih malu-malu dan hanya bisa menjawab dengan tawa. Dan di balik telepon itu, aku menebak bahwa ibu inginkan segera. 

Beberapa waktu setelah telepon itu ditutup. Aku memikirkan banyak hal ke depannya. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana aku nanti mengatasinya, melewatinya, dan mencari jalan solusi terbaiknya. Mungkin memang benar yang orang banyak bilang, bahwa lelaki butuh pertimbangan yang matang untuk memutuskan sesuatu yang benar-benar serius. Sebab, lelaki tak akan ingin apa yang diputuskannya adalah gegabah. Lelaki selalu ingin keputusannya adalah yang bijaksana. Agar nanti apa yang dilalui di hari-hari berikutnya adalah bahagia.

Tiba-tiba ia pun bertanya, sebisa mungkin aku mengalihkan pertanyaan itu dengan obrolan dengan topik yang berbeda. Sebagai tanda bahwa aku sedang mempersiapkan itu semua. Sabarlah...

Menjemput malam. 22.56 Wib.
30/10/2017

You Might Also Like

0 komentar: