Memilih Teman Hidup

9:53 PM Robi Afrizan Saputra 3 Comments


Barangkali satu di antara pertanyaan yang akan aku sampaikan kepadamu nanti, jika memang telah tiba masa taaruf itu adalah pertanyaan ini,

"Apakah kamu adalah tipikal perempuan yang suka shopping?"

Pertanyaan ini penting. Setidaknya penting bagi diriku (sendiri). Sebab, konsepku akan rumah tangga adalah harus memilih teman hidup yang mampu memanajemen keuangan keluarga

Bagaimana caranya nanti, jika penghasilanku hanya pas-pasan sedangkan permintaanmu atas keinginan (bukan kebutuhan) terus bertambah-tambah. Tentu aku tidak akan bisa memenuhi itu semua. Sebab, rumah tangga muda kita adalah rumah tangga yang baru bertumbuh. Belum punya apa-apa.

Jika di masa kuliahmu...

Kamu lebih memilih menabung daripada berbelanja sesuatu yang bukan kebutuhanmu; kamu lebih memilih berhemat daripada membeli sesuatu yang belum penting-penting banget; barangkali kamu tak akan sulit menjawab pertanyaan itu.

Juga jangan khawatir. Jika memang nanti di rumah tangga muda kita ada sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan bersama dan harus segera dimiliki. Maka, tugaskulah untuk mengikhtiarkannya walau dalam kondisi keuangan keluarga yang begitu pas-pasan. Semampunya aku akan mengusahakannya. Selagi jalan itu halal dan thayyib, maka aku akan terus mengikhtiarkannya. Sebab, itulah tugasku, sebagai suami untukmu yang bertanggung jawab penuh dengan kebutuhan rumah tangga (muda) kita.

Semoga kamu (perempuan) yang di sana, sudah memulai belajar memanajemen keuanganmu kini demi rumah tangga mudamu nanti.

IG: @robiafrizan1

You Might Also Like

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. jika kita menghayati firman Allah dalam surah an nisa : 34, qawammah bagi seorang lelaki tak semudah yang dibayangkan. Tak seumum makna kepemimpinan yg kita pahami seringkali.

    Inilah yg patut menjadi perenungan bagi para suami maupun para lelaki yg akan menjadi suami.
    Bahwa qawammah bermakna kewajiban untuk menjadi pilar yang kokoh. Tempat bersandar yg tegar. Tempat penopang yang menjamin tidak robohnya bangunan rumah tangga
    Qawammah bagi suami bermakna juga kewajiban untuk menjadi sumber nafkah bagi keberlangsungan penghidupan.
    Qawammah bagi suami juga bermakna pemimpin dalam setiap pengertiannya. Merencanakan, mengatur, menjaga, menjalankan dst.
    Qawammah bagi suami adalah kewajiban menjaga keadilan dan keseimbangan. Tidak memutuskan kecuali berlandaskan ilmu.
    Qawammah bagi suami juga bermakna kewajiban untuk menjadi pendidik. Keteladanan dan ilmu adalah mata air deras yg harus dimiliki suami. Pendidik bukan hanya mengajarkan ilmu, akan tapi juga menjadi yg terdepan dalam keteladanan atas ilmu tersebut.

    Sebesar inilah tugas para lelaki. Maka sudah seharusnya setiap suami "memaksakan" diri menuju seluruh sifat tersebut. Demikian pula para lelaki, disiapkan dan didik untuk menjadi qawwam bagi istrinya.

    Inilah qawammah yg harus dipertanggungjawabkan para suami di hadapan Allah kelak.
    Setiap istri dan calon istri harus memahami hal ini, dan bahu membahu membantu keberlangsungan amanah yg dibebankan tiap-tiapnya.

    Tidak perlu khawatir dengan pertanyaan-pertanyan yg senantiasa hadir membayangi para bujang, semisal "sudah ada calon, kapan dst",

    Tapi khawatirkanlah bila kita memiliki keyakinan akan kesiapan berumah tangga, akan tetapi tak membawa bekal ilmu yg cukup menuju hal tersebut.

    BalasHapus